Apakabar semuanya? hari ini saya akan mengupload salah satu hasil makalah original saya yang saya buat semester satu lalu. yuk simak, semoga bermanfaat yaa... monggo yang mau dijadikan bahan asalkan ditulisi sumbernya yaa..... yaitu saya... wkwkwkwk.... :-D
SEMOGA BERMANFAAT .....
Makalah Pengantar Studi Islam
|
PENDEKATAN KONTEKS
STUDI ISLAM
|
( Pendekatan Antropologis, Sosiologis,
Filosofis dan Fenomenologis)
|
FAKULTAS TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA
ARAB
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2017
|
Disusun Oleh :
Za’irotul
Auliya ( NIM D92217037 )
Segala puji bagi
Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, nikmat, taufiq, serta hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Pendekatan Dalam Konteks Study Islam” sebagai pertanggungjawaban
atas tugas Pengantar Study Islam
yang berikan. Di dalam penyusunan makalah ini saya mengucapkan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, terutama Bapak Dr. Junaidi,MAg. selaku guru dan
pembimbing.
Namun sebagai
penulis, kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah
ini, maka dari itu kami menerima kritik dan saran yang bersifat membangun.
Semoga di masa yang akan datang kami mampu menyusun makalah dengan jauh lebih
baik lagi. Dan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca. Amin.
Surabaya, 5 Nopember 2017
Penyusun
Daftar
Isi
Daftar Isi...................................................................................................................3
PENDAHULUAN
Semua
agama, pada hakikatnya terbentuk berdasarkan wahyu dan tafsir terhadap wahyu.
Wahyu bersifat pasti dan tetap. Ia merupakan pernyataan aktual dan mengandung
kebenaran kebenaran-kebenaran abadi.[1] Islam sebagai
agama yang sempurna selain sebagai tuntunan juga sebagai penerang dari jalan
kejahilan sebagai rohmat bagi seluruh alam. Begitu juga di tengah arus
perkembangan peradaban ini, islam menjawab seluruh problematika dengan seluruh
kalamNya bagi orang-orang yang berfikir dan bersungguh-sungguh memahami.
Untuk mempelajari
diperlukan metode dan pendekatan yang secara operasional - konseptual dapat
memberikan pandangan tentang Islam. Untuk
saat ini, melakukan studi Islam dengan menggunakan berbagai macam pendekatan
menjadi penting karena banyak diantara umat Islam dunia ini yang memiliki
kecenderungan untuk mensakralkan pemikiran keagamaannya (taqdis al-afkar
al-dini, menganggap pendapat kelompoknya paling benar, sementara kelompok yang
lain disalahkan. Padahal, Islam sebagai agama tidak cukup dipahami melalui
pintu wahyunya belaka, tetapi juga perlu dipahami melalui pintu pemeluknya,
yaitu masyarakat muslim yang mengkhayati, meyakini dan memperoleh pengaruh dari
Islam.Alasannya adalah bahwa Islam itu dipahami oleh pemeluk secara berbeda,
karena setiap manusia memiliki pemahaman yang beragam, sehingga tidak dapat
dipungkiri umat Islam untuk memiliki satu bentuk pemahaman yang sama.Oleh
karena itu, didalam studi Islam terdapat multiplisitas pendekatan metode yang
saling melengkapi dan mengisi secara kritis-komunikatif.[2]
Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah
satu upaya dalam memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan
yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama
tampak akrab dan dekat dengan masalah- masalah yang dihadapi manusia dan
berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Dengan kata lain, cara-cara
yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah digunakan
pula untuk memahami agama.[3]
Dalam berbagai penelitian antropologi agama dapat ditemukan adanya hubungan
positif antara kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi dan politik. Golongan
masyarakat yang kurang mampu dan miskin pada umumnya lebih tertarik pada
gerakan-gerakan keagamaan yang bersifat messianic, yang menjanjikan perubahan
tatanan sosial kemasyarakatan. Adapun golongan orang kaya lebih cenderung untuk
mempertahankan tatanan masyarakat yang sudah mapan secara ekonomi lantaran
tatanan ini menguntungkan pihaknya. Melalui pendekatan antropologis, kita melihat
bahwa agama ternyata berkorelasi dengan etos kerja dan perkembagan ekonomi
suatu masyarakat. Dalam hal ini, jika ingin mengubah pandangan dan sikap etos
kerja seseorang, kita mengubah pandangan keagamaannya.[4]
Melalui pendekatan antropologis, sebagaimana dijelaskan di atas terlihat
dengan jelas hubungan agama dengan berbagai masalah kehidupan manusia, dan
dengan itu pula, agama terlihat akrab dan fungsional dengan berbagai fenomena
kehidupan manusia.
Pendekatan antropologis seperti itu diperlukan, sebab banyak hal yang
dibicarakan agama hanya dijelaskan dengan tuntas melalui pendekatan
antropologis. Dalam Al-Qur’an yang digunakan
sebagai sumber agama ajaran islam misalnya, kita memperoleh informasi
tentang kapal Nabi Nuh di gunung arafah, kisah Ashabul Khafi yang dapat
bertahan hidup dalam gua lebih dari tiga ratus tahun lamanya. Di mana kira-kira
bangkai kapal Nabi Nuh itu, dan di mana kira- kira gua itu dan bagaimana pula
bisa terjadi hal yang menakjubkan seperti itu, ataukah hal demikian merupakan kisah
fiktif ? Tentu masih banyak lagi contoh lain yang hanya dapat dijelaskan dengan
ahli geografis dan arkeologi.[5]
Dengan demikian, pendekatan antropologis sangat diutuhkan dalam memahami
ajaran agama, karena dalam ajaran agama tersebut terdapat uraian dan informasi
yang dapat dijelaskan melalui bantuan ilmu antropologi dengan cabang-cabangnya.[6]
Sosiologi adalah ilmu yang menggambarkan keadaan masyarakat lengkap dengan
struktur, lapisan serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling
berkaitan. Dan juga mempelajari
kehidupan masyarakat dan menyelidiki ikatan- ikatan antara manusia yang saling berkaitan serta keyakinan-keyakinan yang mendasar
terjadinya proses tersebut.[7]
Sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami
pendekatan. Hal ini dapat dimengerti karena banyak kajian agama yang baru dapat
dipahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dari
ilmu sosiologi. Dalam ajaran islam dapat dijumpai peristiwa Nabi Yusuf yang
dahulu budak lalu akhirnnya bisa jadi penguasa di Mesir. Mengapa dalam
melaksanakan tugasnya Nabi Musa harus di bantu Nabi Harun dan masih banyak lagi
masalah yang lain. Beberapa peristiwa tersebut baru dapat dijawab dan sekaligus
dapat ditemukan hikmahnya dengan bantuan ilmu sosial. Disinilah peran sosiologi
sebagai salah satu alat dalam memahami ajaran agama.[8]
Pentingnya pendekatan sosiologi dalam memahami agama dapat dipahami karena
banyak ajaran agama yang berkaitan dengan masalah sosial. Besarnya perhatian
agama terhadap masalah sosial ini selanjutnya mendorong kaum agama memahami
ilmu-ilmu sosial sebagai alat untuk memahami agamanya. Dalam bukunya yang berjudul
Islam Alternatif, Jalaludin Rahmat telah menunjukkan betapa besarnya
perhatian agama, dalam hal ini islam, terhadap masalah sosial, dengan
mengajukkan lima alasan berikut.
Pertama, dalam Al-Quran atau kitab-kitab hadis proporsi terbesar kedua
sumber hukum islam itu berkenaan urusan muamalah. Menurut Aytul Khumaini, dalam
bukunya Al-hukumah Al-islamiyah yang dikutip Jalaludin Rahmat yang
mengungkapkan bahwa perbandingan antara ayat-ayat ibadah dan ayat-ayat yang
menyangkut kehidupan sosial adalah suatu perbandingan seratus untuk satu ayat
ibadah, dan seratus muamalah (masalah sosial).
Kedua, ibadah yang mengandung segi masyarakat diberi ganjaran lebih besar
daripada ibadah yang bersifat perorangan. Oleh karena itu shalat yang dilakukan
salat berjamaah dinilai lebih tinggi nilainya dari pada shalat sendirian (munfarid) dengan ukuran
satu berbanding dua puluh derajat.
Ketiga,dalam islam terdapat ketentuan bila urusan ibadah dilakukan tidak
sempurna atau batal, karena melanggar pantangan tertentu, kifaratnya
(kafaratnya) ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial.
Bila puasa tidak mampu dilakukan misalnya, jalan keluarnya dengan jalan
membayar fidyah dalam bentuk memberi makan bagi orang miskin. Bila suami istri
bercampur di siang hari pada bulan ramadhan atau ketika istri dalam keadaan
haid, tebusannya adalah dinyatakan bahwa salah satu orang yang diterima
shalatnya ialah orang yang menyantuni orang miskin, anak yatim, janda, dan yang
mendapat musibah.[9]
Melalui pendekatan sosiologis, agama dapat dipahami dengan mudah karena
agama itu sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial. Dalam Al-Quran misalnya,
kita jumpai ayat-ayat berkenaan dengan hubungan manusia lainnya, sebab-sebab
yang menyebabkan terjadinya kemakmuran suatu bangsa, dan sebab-sebab yang
menyebabkan kesengsaraan. Semua itu jelas baru dapat dijelaskan apabila yang memahaminya
mengetahui sejarah sosial pada saat ajaran agama itu diturunkan.[10]
Secara harfiah, kata filsafat adalah padanan dari bahasa Arab Falsafah
dan bahasa Inggrisnya philosophy. Kata filsafat sendiri berasal dari kata Philosophia, yakni
gabungan dari kata “philos” yang artinya cinta, dan “sophos” yang berarti kebijaksanaan,
dengan kata lain filsafat adalah cinta kepada kebijaksanaan.[11] Filsafat dapat pula
berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha mengkaitkan sebab dan akibat serta berusaha
menafsirkan pengalaman pengalaman manusia. Sidi Gazalba mendefinisikan bahwa
filsafat adalah berpikir secara mendalam,sistematik, radikal, dan universal
dalam rangka mencari kebenaran, inti, hikmah atau hakikat tentang segala
sesuatu yang ada. Artinya, bahwa inti filsafat merupakan upaya menjelaskan
inti, hakikat, atau hikmah tentang sesuatu yang berada di balik objek
formalnya. Berpikir secara filosofis selanjutnya dapat digunakan dalam memahami
ajaran Islam, dengan maksud agar hikmah, hakikat atau inti dari ajaran Islam
dapat dimengerti dan dipahami secara seksama. [12]
Pendekatan Filosofis merupakan metode yang sering digunakan dalam studi
keagamaan untuk mengkaji agama. Dalam pendekatan ini penekanannya lebih pada
upaya penyingkapan dan pemahaman fenomena agama daripada menilai evisensi dan
mengevaluasi kebenaran apa-apa yang diklaim agama. Pendekatan filosofis dalam
studi agama mungkin harus melakukan penelitian dan penyelidikan yang berfokus
pada: bagaimana ide-ide dan konsep-konsep dalam sejarah filsafat memungkinkan
kita memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang doktrin atau memahami
pandangan para teolog secara lebih akurat. Pendekatan ini berhubungan dengan
teologi sehingga muncul “teologi filosofis” karena perangkat-perangkat dan
teknik-teknik digunakan untuk meneliti persoalan-persoaln teologis dan
memungkinkan mahasiswa menjadikan teologi lebih baik.
Sekadar contoh, Muhammad al-Jurjawi dalam bukunya Himah al-Tasyri wa
Falsafatuhu berupaya mengungkapkan hikmah yang terdapat di balik ajaran-ajaran
Islam. Ajaran shalat berjamaah misalnya memiliki tujuan agar seseorang
merasakan hikmahnya hidup secara berdampingan dengan orang lain. Dengan
mengerjakan puasa, agar seseorang dapat merasakan lapar yang selanjutnya
menimbulkan rasa iba kepada sesamanya yang hidup serba kekurangan. Ibadah haji
yang dilaksanakan di Kota Makkah, dalam waktu yang bersamaan, dengan bentuk dan
gerak ibadah (manasik) yang sama dengan yang dikerjakan lainnya dimaksudkan
agar seseorang berpandangan luas, merasa bersaudara dengan sesama muslim di
seluruh dunia. Demikian halnya informasi tentang kehidupan para nabi terdahulu.
Maksudnya bukan sekadar mengenangnya, tetapi bersamaan dengan itu diperlukan
kemampuan mengungkap makna filosofis yang terkandung di belakang peristiwa
tersebut. Kisah Nabi Yusuf yang digoda seorang wanita bangsawan, secara lahiriah
menggambarkan kisah yang bertema pornografi atau kecabulan. Kesimpulan demikian
bisa terjadi manakala seseorang hanya memahami bentuk lahiriah dari kisah
tersebut. Namun, sebenarnya melalui kisah tersebut Tuhan ingin mengajarkan
kepada manusia agar memiliki ketampanan lahiriah dan betiniah secara prima.
Nabi Yusuf telah menunjukkan kesanggupannya mengendalikan dorongan seksualnya
dari berbuat mesum. Sementara lahiriahnya ia tampan dan menyenangkan orang yang
melihatnya, sementara Julaikha merupakan wanita bangsawan yang cantik jelita.
Makna demikian dapat dijumpai melalui pendekatan yang bersifat filosofis.
Dengan menggunakan pendekatan filosofis seseorang akan dapat memberi makna
terhadap sesuatu yang dijumpainya, dan dapat pula menangkap hikmah dan ajaran
yang terkandung di dalamnya.
Melalui pendekatan filosofis ini, seseorang tidak akan terjebak pada
pengalaman agama yang bersifat formalistik, yakni mengamalkan agama dengan
susah payah tapi tidak memiliki makna apa-apa, kosong tanpa arti. Yang didapati
dari pengalaman agama hanyalah pengakuan formalistik, misalnya sudah berpuasa,
sudah zakat, sudah haji, dan berhenti sampai di situ. Mereka tidak dapat
merasakan nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Namun demikian,
pendekatan filosofis ini tidak berarti menafikan atau menyepelekan bentuk
pengalaman agama yang bersifat formal.[13]
Ilyas Supena menambahkan bahwa untuk mencapai predikat kebijaksanaan, maka
syarat yang harus ditempuh adalah:
a. Orang harus
membiasakan diri untuk bersikap kritis terhadap kepercayaan dan sikap yang
selama ini sangat dijunjung tinggi
b. Memadukan temuan
sains dengan pengalaman kemanusiaan sehingga menjadi pandangan yang konsisten
tentang alam semesta dan isinya.
c. Mencermati jalan
pemikiran para filsuf dan menempatkannya sebagai pisau analisis untuk
memecahkan masalah kehidupan.
d. Mempelajai butir-butir hikmah atau pengetahuan yang
terkandung dalam ajaran agama.
Definisi fenomenologis yaaitu barasal dari bahasa Yunani “fenomenon” yaitu sesuatu yang tampak yang terlihat
karena berkecakupan. Dalam bahasa
indonesia dipakai istilah gejala, jadi fenomenologi adalah suatu aliran yang
membicarakan fenomena atau gejala sesuatu yang menampakkan diri. Ilmu yang
dipelajari adalah ilmu tentang perkembangan kesadaran dan pengenalan diri
manusia sebagai ilmu yang mendahului ilmun filsafat atau bagian dari filsafat.
Pendekatan fenomenologis ini dilahirkan oleh sekelompok orang yang
memililki perhatian steerhadap studi agama . di erpa pada perempat terakir abad
ke 19. Pada dasarnya merupakann suatu usaha untuk mendekati agama secara
ilmiah, sebagai fenomena sejarah yang paling penting dan universal. Charles J.
Adams memberikn dua hal yang diperlukan untuk memehami pendekatan
fenomenologis. Pertama, fenomenologis diartikan sebagai metode memahami agama
orang lain dengan cara menempatkan diri pada posisi netral. Fenomenologis
digunanakn untuk menerapkan metode dalam meletakkan pandangan subyektif
peneliti. Kedua, sebagai konstruksi skema dalam mengklarifikasi fenomena denagn
melintasi batas batas komunitas agama, budaya, dan zaman. Intinya dalah mencari
esensi, makna, dan struktur pengalam keagamaan manusia secara keseluruan. Dalam
pengalaman keberagaman manusia ada esensi irreducible dan itulah struktur fundamental
manusia beragama.[14]
Prestasi
besar pendekatan fenomenologis adalah adanya keniscayaan pandangan bahawa norma
dari semua studi tentang adgama adalah pengalaman kaum beriman itu sendiri.
Oleh karena itu, kepentingan dasar yang yang menjadi soal fenomenologi ini
adalah terkait dengan pertanyaan apa yang telah dialami, dirasakan, dikatakan,
dan dilaksanakan oleh orang beragama itu sendiri, terutama
pengalaman-pengalaman yang bermakna bagi pemeluknya. Dengan demikian tujuan
dari studi fenomenologi adalah untuk menjelaskan makna-makna sehingga
memperjelas apalkah ritus, seremoni, doktrin atau reaksi sosial itu mengandung
arti bagi para pemeluknya. Dalam peristiwa keagamaan. Selain itu, fenomenologi
menghendaki agar untuk memberikan makna terhadap fenomena keagamaan secara
memadai, maka seorang peneliti dituntut berfikir secara komprehensif.[15]
Gagasan mengenai studi agama secara fenomenologis sesungguhnya merupakan
upaya menjustifikasi (hukum/keadilan) studi agama berdasar istilah yang
dimilikinya sendri dari pada berdasar sudut pandang teolog atau ilmuwan sosial.
Gagasan umum yang terdapat dibalik pilihan ini, telah dan tetap bersifat
liberal, yang menegaskan pentingnya pengkajian yang setara terhadap kultur
keagamaan yang berbeda-beda yang melampaui atau yang ada sekarang, berempati
dan berusaha memahami sudut pandang trads yang berbeda-beda yang melintasi
spektrum praktik keagamaam dan mengonstruksi suatu kasus demi kepentingan
studii agama dalam dunia akademik.
Objektifitas atau netralitas fenomenolog, berdasar penelitian yang cermat
merupakan suatu keputusan yang berlawanan dengan pandangan dunia (woridview)
keagaman. Bowker memahami komunikasi ini berlangsung melalui doa, penyembahan,
dan intersesi. Kristismenya, sebagaimana diarahkan kepada fenomenolog, adalah
suatu dalih agar berhenti dari duduk di pagar (suatu posisi yang tidak layak
dan tidak stabil yang harus dijustifikasi oleh fenomenologi ) dan mengakui
perlunya menduduki suatu wilayah epistimologis khusus yakni menjadi seorang
ilmuan prilaku atau teolog / orang beriman.[16]
BAB III
Antropologis, Sosiologis, Filsafat,
dan agama, adalah beberapa hal yang berbeda tetapi tidak harus dipertentangkan.
Pemahaman agama memerlukan perangkat ilmu bantu agar pesan agama dapat dipahami
sebaik-baiknya.
Studi normatif terhadap
Islam, yang umumnya dikerjakan kaum Muslim sendiri untuk menemukan kebenaran
religius, meliputi studi-studi tafsir, hadits, fiqih, dan kalam. Kemudian studi
selanjutnya non-normatif terhadap aspek-aspek kebudayaan dan masyarakat Muslim,
dalam pengertian yang lebih luas: meliputi telaah Islam dari sudut sejarah dan
sastra atau antropologi, sosiologi dan lain-lain.
Dalam memahami islam
hendaknya kita melalui berbagai pendekatan yang membantu kita memahami islam secara
utuh dan menyeluruh. Dengan demikian ajaran islam dapat dilaksanakan secara
utuh pula. Sebagai generasi muslim tentu kita dihadapkan berbagai persoalan
keagamaan yang menuntut kita menghadapinya dengan bijak. Maka dengan mengetahui
berbagai pendekatan konteks study islam diharapkan dapat membantu generasi muda
untuk menghadapi berbagai masalah tesebut.
DAFTAR PUSTAKA
Nata,Abuddin. 1999.
Metodologi studi islam. Jakarta : RajaGrafindo Persada.
Rosihon,Anwar. 2009. Pengantar studi islam. Bandung :
Pustaka Setia.
Connoly,Peter.
2009.Aneka Pendekatan Studi Agama, Yogyakarta : Elkis.
Tim Reviewer BukuMKD
UIN Sunan Ampel. 2017.Pengantar Studi Islam. Surabaya: UIN Sunan Ampel
Press.
Tim
Reviewer BukuMKD UIN Sunan Ampel . 2013. Pengantar Studi Islam. Surabaya:
UIN Sunan Ampel Press.
Tim Reviewer
BukuMKD UIN Sunan Ampel. 2013. Pengantar Filsafat. Surabaya: UIN Sunan
Ampel Press.
[1]
Tim
Reviewer BukuMKD UIN Sunan Ampel , Pengantar Studi Islam, cet.7Surabaya:
UIN Sunan Ampel Press,2014
[2] Tim Reviewer BukuMKD
UIN Sunan Ampel , Pengantar Studi Islam, cet.7Surabaya: UIN Sunan Ampel
Press,2017
[3] Abuddin Nata,
Metodologi studi islam, Jakarta : RajaGrafindo Persada , 1999.
[4] Ibid,
hlm.49-50
[5] Abuddin Nata,
Metodologi studi islam, Jakarta : RajaGrafindo Persada , 1999.
[6] Anwar rosihon, Pengantar
studi islam, Bandung : pustaka setia, 2009.
[7] Abuddin Nata,
Metodologi studi islam, Jakarta : RajaGrafindo Persada , 1999.
[8] Ibid, hlm 39
[9] Abuddin Nata,
Metodologi studi islam, Jakarta : RajaGrafindo Persada , 1999.
[10] Anwar rosihon ,
Pengantar Studi Islam, Bandung : pustaka setia, 2009, hlm. 85.
[11] Tim Reviewer BukuMKD
UIN Sunan Ampel , Pengantar Filsafat, cet.7Surabaya: UIN Sunan Ampel
Press,2017
[12] Tim Reviewer BukuMKD
UIN Sunan Ampel , Pengantar Studi Islam, cet.7Surabaya: UIN Sunan Ampel
Press,2013
[13] Abuddin Nata,
Metodologi studi islam, Jakarta : RajaGrafindo Persada , 1999.
[14] Tim Reviewer BukuMKD
UIN Sunan Ampel , Pengantar Filsafat, cet.7Surabaya: UIN Sunan Ampel
Press,2017
[15] Tim Reviewer BukuMKD
UIN Sunan Ampel , Pengantar Studi Islam, Surabaya: UIN Sunan Ampel
Press, 2013
[16] Peter Connoly,
Aneka Pendekatan Studi Agama, Yogyakarta : Elkis, 2009, hlm. 105.