Selasa, 30 Januari 2018

MAKALAH PEDEKATAN KONTEKS STUDY ISLAM : FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, ANTROPOLOGIS, DAN FENOMENOLOGIS

Assalamualaikum.....
Apakabar semuanya? hari ini saya akan mengupload salah satu hasil makalah original saya yang saya buat semester satu lalu. yuk simak, semoga bermanfaat yaa... monggo yang mau dijadikan bahan asalkan ditulisi sumbernya yaa..... yaitu saya... wkwkwkwk.... :-D
SEMOGA BERMANFAAT .....
Makalah Pengantar Studi Islam
PENDEKATAN KONTEKS STUDI ISLAM

( Pendekatan Antropologis, Sosiologis, Filosofis dan Fenomenologis)


FAKULTAS TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2017









Dosen Pengampu :Dr. Junaidi,MAg.

Disusun Oleh :
Za’irotul Auliya ( NIM D92217037 )






            Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, nikmat, taufiq, serta hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Pendekatan Dalam Konteks Study Islamsebagai pertanggungjawaban atas tugas Pengantar Study Islam yang berikan. Di dalam penyusunan makalah ini saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, terutama Bapak Dr. Junaidi,MAg. selaku guru dan pembimbing.
Namun sebagai penulis, kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, maka dari itu kami menerima kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga di masa yang akan datang kami mampu menyusun makalah dengan jauh lebih baik lagi. Dan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca. Amin.



Surabaya, 5 Nopember 2017

Penyusun




Daftar Isi

Daftar Isi...................................................................................................................3

 




PENDAHULUAN
            Semua agama, pada hakikatnya terbentuk berdasarkan wahyu dan tafsir terhadap wahyu. Wahyu bersifat pasti dan tetap. Ia merupakan pernyataan aktual dan mengandung kebenaran kebenaran-kebenaran abadi.[1] Islam sebagai agama yang sempurna selain sebagai tuntunan juga sebagai penerang dari jalan kejahilan sebagai rohmat bagi seluruh alam. Begitu juga di tengah arus perkembangan peradaban ini, islam menjawab seluruh problematika dengan seluruh kalamNya bagi orang-orang yang berfikir dan bersungguh-sungguh memahami.
            Untuk mempelajari diperlukan metode dan pendekatan yang secara operasional - konseptual dapat memberikan pandangan tentang Islam.    Untuk saat ini, melakukan studi Islam dengan menggunakan berbagai macam pendekatan menjadi penting karena banyak diantara umat Islam dunia ini yang memiliki kecenderungan untuk mensakralkan pemikiran keagamaannya (taqdis al-afkar al-dini, menganggap pendapat kelompoknya paling benar, sementara kelompok yang lain disalahkan. Padahal, Islam sebagai agama tidak cukup dipahami melalui pintu wahyunya belaka, tetapi juga perlu dipahami melalui pintu pemeluknya, yaitu masyarakat muslim yang mengkhayati, meyakini dan memperoleh pengaruh dari Islam.Alasannya adalah bahwa Islam itu dipahami oleh pemeluk secara berbeda, karena setiap manusia memiliki pemahaman yang beragam, sehingga tidak dapat dipungkiri umat Islam untuk memiliki satu bentuk pemahaman yang sama.Oleh karena itu, didalam studi Islam terdapat multiplisitas pendekatan metode yang saling melengkapi dan mengisi secara kritis-komunikatif.[2]

C.     Tujuan Penulisan
1.   ) Untuk Mengetahui pendekatan antropologis Studi Islam
2.   ) Untuk Mengetahui pendekatan sosiologis Studi Islam
 3.  ) Untuk Mengetahui pendekatan Filosofis Studi Islam
 4.  ) Untuk Mengetahui pendekatan Fenomenologis Studi Islam



Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya dalam memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama tampak akrab dan dekat dengan masalah- masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Dengan kata lain, cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama.[3]
Dalam berbagai penelitian antropologi agama dapat ditemukan adanya hubungan positif antara kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi dan politik. Golongan masyarakat yang kurang mampu dan miskin pada umumnya lebih tertarik pada gerakan-gerakan keagamaan yang bersifat messianic, yang menjanjikan perubahan tatanan sosial kemasyarakatan. Adapun golongan orang kaya lebih cenderung untuk mempertahankan tatanan masyarakat yang sudah mapan secara ekonomi lantaran tatanan ini menguntungkan pihaknya. Melalui pendekatan antropologis, kita melihat bahwa agama ternyata berkorelasi dengan etos kerja dan perkembagan ekonomi suatu masyarakat. Dalam hal ini, jika ingin mengubah pandangan dan sikap etos kerja seseorang, kita mengubah pandangan keagamaannya.[4]
Melalui pendekatan antropologis, sebagaimana dijelaskan di atas terlihat dengan jelas hubungan agama dengan berbagai masalah kehidupan manusia, dan dengan itu pula, agama terlihat akrab dan fungsional dengan berbagai fenomena kehidupan manusia.
Pendekatan antropologis seperti itu diperlukan, sebab banyak hal yang dibicarakan agama hanya dijelaskan dengan tuntas melalui pendekatan antropologis. Dalam Al-Qur’an yang digunakan  sebagai sumber agama ajaran islam misalnya, kita memperoleh informasi tentang kapal Nabi Nuh di gunung arafah, kisah Ashabul Khafi yang dapat bertahan hidup dalam gua lebih dari tiga ratus tahun lamanya. Di mana kira-kira bangkai kapal Nabi Nuh itu, dan di mana kira- kira gua itu dan bagaimana pula bisa terjadi hal yang menakjubkan seperti itu, ataukah hal demikian merupakan kisah fiktif ? Tentu masih banyak lagi contoh lain yang hanya dapat dijelaskan dengan ahli geografis dan arkeologi.[5]
Dengan demikian, pendekatan antropologis sangat diutuhkan dalam memahami ajaran agama, karena dalam ajaran agama tersebut terdapat uraian dan informasi yang dapat dijelaskan melalui bantuan ilmu antropologi dengan cabang-cabangnya.[6]

Sosiologi adalah ilmu yang menggambarkan keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan.  Dan juga mempelajari kehidupan masyarakat dan menyelidiki ikatan- ikatan antara manusia  yang saling berkaitan  serta keyakinan-keyakinan yang mendasar terjadinya proses tersebut.[7]
Sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami pendekatan. Hal ini dapat dimengerti karena banyak kajian agama yang baru dapat dipahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dari ilmu sosiologi. Dalam ajaran islam dapat dijumpai peristiwa Nabi Yusuf yang dahulu budak lalu akhirnnya bisa jadi penguasa di Mesir. Mengapa dalam melaksanakan tugasnya Nabi Musa harus di bantu Nabi Harun dan masih banyak lagi masalah yang lain. Beberapa peristiwa tersebut baru dapat dijawab dan sekaligus dapat ditemukan hikmahnya dengan bantuan ilmu sosial. Disinilah peran sosiologi sebagai salah satu alat dalam memahami ajaran agama.[8]
Pentingnya pendekatan sosiologi dalam memahami agama dapat dipahami karena banyak ajaran agama yang berkaitan dengan masalah sosial. Besarnya perhatian agama terhadap masalah sosial ini selanjutnya mendorong kaum agama memahami ilmu-ilmu sosial sebagai alat untuk memahami agamanya. Dalam bukunya yang berjudul Islam Alternatif, Jalaludin Rahmat telah menunjukkan betapa besarnya perhatian agama, dalam hal ini islam, terhadap masalah sosial, dengan mengajukkan lima alasan berikut.
Pertama, dalam Al-Quran atau kitab-kitab hadis proporsi terbesar kedua sumber hukum islam itu berkenaan urusan muamalah. Menurut Aytul Khumaini, dalam bukunya Al-hukumah Al-islamiyah yang dikutip Jalaludin Rahmat yang mengungkapkan bahwa perbandingan antara ayat-ayat ibadah dan ayat-ayat yang menyangkut kehidupan sosial adalah suatu perbandingan seratus untuk satu ayat ibadah, dan seratus muamalah (masalah sosial).
Kedua, ibadah yang mengandung segi masyarakat diberi ganjaran lebih besar daripada ibadah yang bersifat perorangan. Oleh karena itu shalat yang dilakukan salat berjamaah dinilai lebih tinggi nilainya dari pada  shalat sendirian (munfarid) dengan ukuran satu berbanding dua puluh derajat.
Ketiga,dalam islam terdapat ketentuan bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal, karena melanggar pantangan tertentu, kifaratnya (kafaratnya) ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial. Bila puasa tidak mampu dilakukan misalnya, jalan keluarnya dengan jalan membayar fidyah dalam bentuk memberi makan bagi orang miskin. Bila suami istri bercampur di siang hari pada bulan ramadhan atau ketika istri dalam keadaan haid, tebusannya adalah dinyatakan bahwa salah satu orang yang diterima shalatnya ialah orang yang menyantuni orang miskin, anak yatim, janda, dan yang mendapat musibah.[9]
Melalui pendekatan sosiologis, agama dapat dipahami dengan mudah karena agama itu sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial. Dalam Al-Quran misalnya, kita jumpai ayat-ayat berkenaan dengan hubungan manusia lainnya, sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya kemakmuran suatu bangsa, dan sebab-sebab yang menyebabkan kesengsaraan. Semua itu jelas baru dapat dijelaskan apabila yang memahaminya mengetahui sejarah sosial pada saat ajaran agama itu diturunkan.[10]

Secara harfiah, kata filsafat adalah padanan dari bahasa Arab Falsafah dan bahasa Inggrisnya philosophy. Kata filsafat sendiri  berasal dari kata Philosophia, yakni gabungan dari kata “philos” yang artinya cinta, dan “sophos” yang berarti kebijaksanaan, dengan kata lain filsafat adalah cinta kepada kebijaksanaan.[11] Filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha mengkaitkan sebab dan akibat serta berusaha menafsirkan pengalaman pengalaman manusia. Sidi Gazalba mendefinisikan bahwa filsafat adalah berpikir secara mendalam,sistematik, radikal, dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti, hikmah atau hakikat tentang segala sesuatu yang ada. Artinya, bahwa inti filsafat merupakan upaya menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah tentang sesuatu yang berada di balik objek formalnya. Berpikir secara filosofis selanjutnya dapat digunakan dalam memahami ajaran Islam, dengan maksud agar hikmah, hakikat atau inti dari ajaran Islam dapat dimengerti dan dipahami secara seksama. [12]
Pendekatan Filosofis merupakan metode yang sering digunakan dalam studi keagamaan untuk mengkaji agama. Dalam pendekatan ini penekanannya lebih pada upaya penyingkapan dan pemahaman fenomena agama daripada menilai evisensi dan mengevaluasi kebenaran apa-apa yang diklaim agama. Pendekatan filosofis dalam studi agama mungkin harus melakukan penelitian dan penyelidikan yang berfokus pada: bagaimana ide-ide dan konsep-konsep dalam sejarah filsafat memungkinkan kita memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang doktrin atau memahami pandangan para teolog secara lebih akurat. Pendekatan ini berhubungan dengan teologi sehingga muncul “teologi filosofis” karena perangkat-perangkat dan teknik-teknik digunakan untuk meneliti persoalan-persoaln teologis dan memungkinkan mahasiswa menjadikan teologi lebih baik.
Sekadar contoh, Muhammad al-Jurjawi dalam bukunya Himah al-Tasyri wa Falsafatuhu berupaya mengungkapkan hikmah yang terdapat di balik ajaran-ajaran Islam. Ajaran shalat berjamaah misalnya memiliki tujuan agar seseorang merasakan hikmahnya hidup secara berdampingan dengan orang lain. Dengan mengerjakan puasa, agar seseorang dapat merasakan lapar yang selanjutnya menimbulkan rasa iba kepada sesamanya yang hidup serba kekurangan. Ibadah haji yang dilaksanakan di Kota Makkah, dalam waktu yang bersamaan, dengan bentuk dan gerak ibadah (manasik) yang sama dengan yang dikerjakan lainnya dimaksudkan agar seseorang berpandangan luas, merasa bersaudara dengan sesama muslim di seluruh dunia. Demikian halnya informasi tentang kehidupan para nabi terdahulu. Maksudnya bukan sekadar mengenangnya, tetapi bersamaan dengan itu diperlukan kemampuan mengungkap makna filosofis yang terkandung di belakang peristiwa tersebut. Kisah Nabi Yusuf yang digoda seorang wanita bangsawan, secara lahiriah menggambarkan kisah yang bertema pornografi atau kecabulan. Kesimpulan demikian bisa terjadi manakala seseorang hanya memahami bentuk lahiriah dari kisah tersebut. Namun, sebenarnya melalui kisah tersebut Tuhan ingin mengajarkan kepada manusia agar memiliki ketampanan lahiriah dan betiniah secara prima. Nabi Yusuf telah menunjukkan kesanggupannya mengendalikan dorongan seksualnya dari berbuat mesum. Sementara lahiriahnya ia tampan dan menyenangkan orang yang melihatnya, sementara Julaikha merupakan wanita bangsawan yang cantik jelita. Makna demikian dapat dijumpai melalui pendekatan yang bersifat filosofis. Dengan menggunakan pendekatan filosofis seseorang akan dapat memberi makna terhadap sesuatu yang dijumpainya, dan dapat pula menangkap hikmah dan ajaran yang terkandung di dalamnya.
Melalui pendekatan filosofis ini, seseorang tidak akan terjebak pada pengalaman agama yang bersifat formalistik, yakni mengamalkan agama dengan susah payah tapi tidak memiliki makna apa-apa, kosong tanpa arti. Yang didapati dari pengalaman agama hanyalah pengakuan formalistik, misalnya sudah berpuasa, sudah zakat, sudah haji, dan berhenti sampai di situ. Mereka tidak dapat merasakan nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Namun demikian, pendekatan filosofis ini tidak berarti menafikan atau menyepelekan bentuk pengalaman agama yang bersifat formal.[13]
Ilyas Supena menambahkan bahwa untuk mencapai predikat kebijaksanaan, maka syarat yang harus ditempuh adalah:
a. Orang harus membiasakan diri untuk bersikap kritis terhadap kepercayaan dan sikap yang selama ini sangat dijunjung tinggi
b. Memadukan temuan sains dengan pengalaman kemanusiaan sehingga menjadi pandangan yang konsisten tentang alam semesta dan isinya.
c. Mencermati jalan pemikiran para filsuf dan menempatkannya sebagai pisau analisis untuk memecahkan masalah kehidupan.
d. Mempelajai butir-butir hikmah atau pengetahuan yang
terkandung dalam ajaran agama.

Definisi fenomenologis yaaitu barasal dari bahasa Yunani “fenomenon”  yaitu sesuatu yang tampak yang terlihat karena berkecakupan. Dalam  bahasa indonesia dipakai istilah gejala, jadi fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan fenomena atau gejala sesuatu yang menampakkan diri. Ilmu yang dipelajari adalah ilmu tentang perkembangan kesadaran dan pengenalan diri manusia sebagai ilmu yang mendahului ilmun filsafat atau bagian dari filsafat.
 Pendekatan fenomenologis ini dilahirkan oleh sekelompok orang yang memililki perhatian steerhadap studi agama . di erpa pada perempat terakir abad ke 19. Pada dasarnya merupakann suatu usaha untuk mendekati agama secara ilmiah, sebagai fenomena sejarah yang paling penting dan universal. Charles J. Adams memberikn dua hal yang diperlukan untuk memehami pendekatan fenomenologis. Pertama, fenomenologis diartikan sebagai metode memahami agama orang lain dengan cara menempatkan diri pada posisi netral. Fenomenologis digunanakn untuk menerapkan metode dalam meletakkan pandangan subyektif peneliti. Kedua, sebagai konstruksi skema dalam mengklarifikasi fenomena denagn melintasi batas batas komunitas agama, budaya, dan zaman. Intinya dalah mencari esensi, makna, dan struktur pengalam keagamaan manusia secara keseluruan. Dalam pengalaman keberagaman manusia ada esensi irreducible dan itulah struktur fundamental manusia beragama.[14]
Prestasi besar pendekatan fenomenologis adalah adanya keniscayaan pandangan bahawa norma dari semua studi tentang adgama adalah pengalaman kaum beriman itu sendiri. Oleh karena itu, kepentingan dasar yang yang menjadi soal fenomenologi ini adalah terkait dengan pertanyaan apa yang telah dialami, dirasakan, dikatakan, dan dilaksanakan oleh orang beragama itu sendiri, terutama pengalaman-pengalaman yang bermakna bagi pemeluknya. Dengan demikian tujuan dari studi fenomenologi adalah untuk menjelaskan makna-makna sehingga memperjelas apalkah ritus, seremoni, doktrin atau reaksi sosial itu mengandung arti bagi para pemeluknya. Dalam peristiwa keagamaan. Selain itu, fenomenologi menghendaki agar untuk memberikan makna terhadap fenomena keagamaan secara memadai, maka seorang peneliti dituntut berfikir secara komprehensif.[15]
Gagasan mengenai studi agama secara fenomenologis sesungguhnya merupakan upaya menjustifikasi (hukum/keadilan) studi agama berdasar istilah yang dimilikinya sendri dari pada berdasar sudut pandang teolog atau ilmuwan sosial. Gagasan umum yang terdapat dibalik pilihan ini, telah dan tetap bersifat liberal, yang menegaskan pentingnya pengkajian yang setara terhadap kultur keagamaan yang berbeda-beda yang melampaui atau yang ada sekarang, berempati dan berusaha memahami sudut pandang trads yang berbeda-beda yang melintasi spektrum praktik keagamaam dan mengonstruksi suatu kasus demi kepentingan studii agama dalam dunia akademik.
Objektifitas atau netralitas fenomenolog, berdasar penelitian yang cermat merupakan suatu keputusan yang berlawanan dengan pandangan dunia (woridview) keagaman. Bowker memahami komunikasi ini berlangsung melalui doa, penyembahan, dan intersesi. Kristismenya, sebagaimana diarahkan kepada fenomenolog, adalah suatu dalih agar berhenti dari duduk di pagar (suatu posisi yang tidak layak dan tidak stabil yang harus dijustifikasi oleh fenomenologi ) dan mengakui perlunya menduduki suatu wilayah epistimologis khusus yakni menjadi seorang ilmuan prilaku atau teolog / orang beriman.[16]



BAB III

Antropologis, Sosiologis, Filsafat,  dan agama, adalah beberapa hal yang berbeda tetapi tidak harus dipertentangkan. Pemahaman agama memerlukan perangkat ilmu bantu agar pesan agama dapat dipahami sebaik-baiknya.
Studi normatif terhadap Islam, yang umumnya dikerjakan kaum Muslim sendiri untuk menemukan kebenaran religius, meliputi studi-studi tafsir, hadits, fiqih, dan kalam. Kemudian studi selanjutnya non-normatif terhadap aspek-aspek kebudayaan dan masyarakat Muslim, dalam pengertian yang lebih luas: meliputi telaah Islam dari sudut sejarah dan sastra atau antropologi, sosiologi dan lain-lain.

Dalam memahami islam hendaknya kita melalui berbagai pendekatan yang membantu kita memahami islam secara utuh dan menyeluruh. Dengan demikian ajaran islam dapat dilaksanakan secara utuh pula. Sebagai generasi muslim tentu kita dihadapkan berbagai persoalan keagamaan yang menuntut kita menghadapinya dengan bijak. Maka dengan mengetahui berbagai pendekatan konteks study islam diharapkan dapat membantu generasi muda untuk menghadapi berbagai masalah tesebut.




DAFTAR PUSTAKA
Nata,Abuddin. 1999. Metodologi studi islam. Jakarta : RajaGrafindo Persada.
Rosihon,Anwar.  2009. Pengantar studi islam. Bandung : Pustaka Setia.
Connoly,Peter. 2009.Aneka Pendekatan Studi Agama, Yogyakarta : Elkis.
Tim Reviewer BukuMKD UIN Sunan Ampel. 2017.Pengantar Studi Islam. Surabaya: UIN Sunan Ampel Press.
Tim Reviewer BukuMKD UIN Sunan Ampel . 2013. Pengantar Studi Islam. Surabaya: UIN Sunan Ampel Press.
Tim Reviewer BukuMKD UIN Sunan Ampel. 2013. Pengantar Filsafat. Surabaya: UIN Sunan Ampel Press.






[1] Tim Reviewer BukuMKD UIN Sunan Ampel , Pengantar Studi Islam, cet.7Surabaya: UIN Sunan Ampel Press,2014

[2] Tim Reviewer BukuMKD UIN Sunan Ampel , Pengantar Studi Islam, cet.7Surabaya: UIN Sunan Ampel Press,2017
[3] Abuddin Nata, Metodologi studi islam, Jakarta : RajaGrafindo Persada , 1999.
[4] Ibid, hlm.49-50
[5] Abuddin Nata, Metodologi studi islam, Jakarta : RajaGrafindo Persada , 1999.
[6] Anwar rosihon, Pengantar studi islam, Bandung : pustaka setia, 2009.
[7] Abuddin Nata, Metodologi studi islam, Jakarta : RajaGrafindo Persada , 1999.
[8] Ibid, hlm 39
[9] Abuddin Nata, Metodologi studi islam, Jakarta : RajaGrafindo Persada , 1999.
[10] Anwar rosihon , Pengantar Studi Islam, Bandung : pustaka setia, 2009, hlm. 85.
[11] Tim Reviewer BukuMKD UIN Sunan Ampel , Pengantar Filsafat, cet.7Surabaya: UIN Sunan Ampel Press,2017
[12] Tim Reviewer BukuMKD UIN Sunan Ampel , Pengantar Studi Islam, cet.7Surabaya: UIN Sunan Ampel Press,2013
[13] Abuddin Nata, Metodologi studi islam, Jakarta : RajaGrafindo Persada , 1999.
[14] Tim Reviewer BukuMKD UIN Sunan Ampel , Pengantar Filsafat, cet.7Surabaya: UIN Sunan Ampel Press,2017
[15] Tim Reviewer BukuMKD UIN Sunan Ampel , Pengantar Studi Islam, Surabaya: UIN Sunan Ampel Press, 2013
[16] Peter Connoly, Aneka Pendekatan Studi Agama, Yogyakarta : Elkis, 2009, hlm. 105.

1 komentar:

  1. semoga makalah ini sangat bermanfaat bagi orang-orang yang mencarinya di Google tentunya mereka membutuhkan makalah-makalah seperti ini.

    Jangan pernah berhenti berkarya ya walaupun tidak ada orang yang mencarinya.

    Jangan lupa untuk berkunjung di blog saya persiapan menjadi seorang penulis

    BalasHapus

Salam Literasi ! Apa Kabar Pembaca Cerdas dan berkualitas ? Semoga senantiasa dalam Rahmat dan RidhoNya Hari ini admin mau berbagi sebua...