Assalamualaikum,,,, kali ini saya akan membagikan cerpen cinta Karya Originalku.... selamat membaca ... salam Literasi !!
Angin bertiup syahdu diantara dedaunan yang gugur di musim yang
penuh haru. Musim yang bahagia namun harus terbalut pilu yang mendera. Mentari
menebar senyumnya bersama dengan kebekuan rindu di Stasiun yang penuh kenangan sendu.
saat Alda bisa berjumpa dengan orang-orang terkasihnya di Jogja. Bapak, ibu,
adiknya dan sanak kerabat kecilnya melalui stasiun ini. Stasiun yang tidak
banyak berubah letak bangunanya. Hanya saja perbaikan telah banyak dilakukan.
Tempat yang juga menjadi kenangan pahit sekaligus saksi teriakan mereka berdua.
“ Aku sudah tidak sanggup jika kakak terus mengatur dengan siapa
aku harus berteman, bukan begitu caranya mengungkapkan ketidakpercayaan !”.
teriakan alda yang sangat keras itu mengejutkan laki-laki styles manis
diseberang jalan. Tidak kalah mengejutkan, laki-laki itu ikut berteriak sembari
mengejar gadis itu.
“Itu yang namanya berteman? aku udah sangat percaya tapi apa iya
harus dibiarkan gitu aja kenyamananmu sama cowok sok alim itu !” dengan susah
payah fandika mengejar alda yangg terus berlari seakan mengejar angin yang
berlalu.
Ia sudah cukup lelah namun
alda telah berhasil memasuki kereta.
Fandika hanya terpaku berdiri dengan penuh kekecewaan. Ia tau maksud
alda yang sengaja berangkat dari jogja sore hari agar sampai disurabaya
malam hari dan ia tidak mungkin menyusulnya ke surabaya malam itu juga. Yang
tidak ia sangka adalah alda, gadis yang begitu berharga dimatanya bisa senekat
itu mengakhiri pertemuan di kebun milik ayahnya sore itu. Entah sejak kapan ia
memesan tiket kereta. Alda, gadis yang begitu ia kagumi entah dari mana ia
harus menceritakan jika ia ditanya mengapa ia mengaguminya.
Tuhan menebar
cinta dalam kehidupan. Mengapa manusia masih mempermasalahkan ikatan sedang
yang disyariatkan tak jua datang sesuai harapan. Masih adakah yang mengatakan:
tertatiku mencari cinta. Dimana ia berada sebenarnya. ada duka dan nestapa dalam hati yang gundah ada
cinta disana yang sedang dipersalahkan. Ada sesuap nasi dan harta benda dan
cinta ada disana melengkapi kecukupan mereka. Ada kemiskinan dan kekurangan
dalam sebuah bahtera disana cinta menguatkan mereka agar tetap kuat menghadapi
tantangan yang ada. Ada kecantikan yang didamba dan semua mata mengatasnamakan
cinta untuk memilikinya. Sebenarnya apa yang ada difikiran mereka yang mendamba
cinta merasa kesepian tanpa pasangan jiwa katanya. Dari sudut pandang mana
mereka berkaca dan menempatkan harapan mereka tentang cinta. Aku ingin cintaku
terjaga dan tak dipertemukan dengan cinta jika harus serumit ini yang aku
hadapi. Sahabat, siapa yang bersalah jika seorang alda dipertemukan terlebih
dahulu dengan cinta untuknya namun tak jua menentramkan hatinya. Masih jelas
dalam ingatan Alda, satu minggu yang lalu di stasiun yang bersejarah bagi
perjalanan hidupnya itu sebelum empat hari berikutnya ia kembali ke jogja ke
rumah neneknya.
Liburan panjang belum berakhir tapi telah ia putuskan untuk segera
sampai di kota tempat ia belajar. Terik mentari membakar bumi, Universitas yang berdiri megah itu
harus ia masuki kembali. Bukan untuk bertatap muka dengan dosen atau berbagai
kajian diskusi. Hanya untuk segera membangkitkan semangatnya yang membara
ketika menuntut ilmu disana. Semangat yang ia butuhkan saat ini untuk menghadapi
bukan menghindari segala masalah. Hatinya bimbang sehingga semangatnya mulai
pudar seperti cinta semu yang menurutnya tidak pantas untuk ia terima saat ini.
Ia diminta untuk menjadi narasumber dibeberapa kajian selama tiga hari. Cukup
membakar semngatnya. Namun dimanapun ia berada,
kegundahan tetap saja menyelimuti hatinya. Tiga hari kemudian ia kembali ke
jogja namun tidak dirumahnya, melainkan dirumah neneknya yang saat ini tinggal
bersama adiknya, khalim yang bersekolah di salah satu Madrasah Aliyah di Jogja.
Terkesan bolak balik dan membuang waktu memang. Toh fandika tidak akan berhenti
untuk terus mencarinya untuk memperjuangkan cintanya pada alda. Meski sudah
berapa panggilan yang ia abaikan. Sejak bertemu dengan alda, fandika tau bahwa
cinta tak selalu tentang nafsu dan kemaksiatan. Alda mengajarkannya hakikat
cinta padanya. Mengajarkan tentang kelembutan dan kesabaran yang tak pernah ia
miliki. Alda telah berhasil membuat kehidupan fandika berubah drastis.
Menyisipkan buih-buih ketaqwaann dalam cinta yang ia berikan. Mengajari tentang
kekuatan cinta melawan hasrat untuk memiliki dan bukan lampiasan keindahan yang
harus dimiliki oleh seorang pecinta. Kejadian di stasiun argo bromo itu rupanya
sangat memukul hati Fandika. Ia tidak menyangka alda akan senekad itu. Tidak
biasanya ia memilih menghindar dari pada menyelesaikan masalah yang ia hadapi.
Masalah sepele yang sebenarnya tidak asing lagi mereka berdua selesaikan. Sudah
berhari hari fandika terlontag lantung mencari alda. Dimana ia sekarang. Ia
bagai ikan yang sudah hampir mati karena tak tersentuh air. Semacam sakit taipi
tak berdarah. Semacam pedih tapi peluh tak jua mengerti akan hati yang tak
faham bahwa saat ini bukan waktunya untuk mengeluh. Menggetarkan puing-puing
hati bukanlah hal yang mudah untuk seseorang yang yang tak menghiraukan hati. Semacam
ingin berteriak namun jeritanpun tak mampu meredam gejolak yang ada. Belajar
bahwa cinta bukanlah ungkapan ekspresi jiwa semata. Bukan tentang nafsu yang
menguasai jiwa dan berdalih atas nama cinta. Tapi tentang kalam ilahi yang
terpancar dari sanubari suci seorang insan.Tuhan menganugrahkanya sebagai
rahmat dan bukan sebagai ikatan yang pantas untuk dihujat.
“ Ampun supe mas, kathah masalah kados ngeten niki mpun saget
njenengan adepi. Embak nggeh mung mberjuangne tresnone. Kula nggeh mboten
ngragoke njenengan maleh. Nanging Gusti Allah mboten Sare mas, ingkang kuwoso
molak malikke manah. Nanging Sedoyo mpun pertelo. Dados nopo maleh ingkang
dipermasalahaken?”
Di ujung sana fandika hanya terpaku meresapi tiap kata yang
diucapkan oleh khalim, seluruh ototnya seakan tidak berfungsi. Ia tutup
percakapan mereka via telepon genggam karena khalim memang tidak mau
memberitahukan dimana alda. Dengan sekuat tenaga ia bangkit dan melajukan
sepeda menyelusuri sepanjang jalan dikota wisata, jogja meskipun ia tak tau
dimana sekarang alda berada. Informasi dari salah satu temannya bahwa Alda
telah kembali ke jogja membuat ia bertekad mencari alda. Dan jika dihadapanya
ada samudra yang membentang pun ia lebih memilih menyebranginya meski ia tau
akan tenggelam dari pada berdiam diri diantara konfliknya dengan Alda. Ia
bertekad menyelesaikan semuanya.
“Alda,
dimana kamu sekarang berada? loe tau, gue seperti mayat hidup. Liburan semester
yang seharusnya sejenak mengakhiri kerinduan gue malah buat gue sengsara kayak
gini. Apa salah gue jika gak ingin kehilangan loe Al?”.
Sepanjang
jalan fandika mengenang semua kenangan bersma alda. Saat alda mengajarinya
tentang kesederhanaan. Ia masih mengingat janjinya pada alda tentang
mempertahankan apa yang seharusnya dipertahankan. Menjaga apa yang seharusnya
dijaga. Alda mengajarkan itu semua. Kehambaan dan ketaqwaan. Ia terus bercerita
sepanjang jalan. Layaknya orang dengan gangguan kejiwaan. Meski tak nyaring,
itu membuat tenggorokanya cukup kering dan memutuskan untuk membasahi
kerongkonganya.
“ Air
minum satu buk !”
Pemilik
warung yang sedang bercakap-cakap dengan wanita muda dihadapanya itu segera
mengakhiri pembicaraan mereka dan menyuguhkan satu botol air mineral. Wanita
itu segera minta izin untuk pulang karena merasa keperluanya telah selesai.
“
Alda !”
Wanita
itu menoleh dan segera berlari
menghindari lelaki yang memanggilnya. Namun fandika telah berhasil meraih
tanganya yang dibalut dengan kain itu. Sekuat
tenaga, Alda berusaha melepaskan cengkraman tangan orang yang pernah ia cintai
itu.
“
loe nggak boleh seenaknya permainin banyak hati Al !, Syaiku, farhan, dan hati
sebelumnya , loe nggak boleh nyakitin banyak hati lagi. Cukup gue ! ya... ckup
Gue !”
“ kak,
aku berhak mencari yang terbaik. Aku berhak memilih yang terbaik !”
Alda
tersedu. Tak mampu melanjutkan pembelaan terhadap perasaanya.
“
Mencari yangg terbaik ? memilih yang terbaik ? inget Al, berkali-kali kayak
gini. Tapi berkali-kali pula kita mampu
nyelesai’in semuanya. Sayang....please, kita selesaikan semuanya baik-baik, oke...”
“Kak,
semuanya udah jelas kan. Apalagi yang perlu diselesaikan? Aku udah memutuskan semuanya. Jadi, maaf
untuk tiga tahun yang membuang waktu kakak.” Alda masih tersedu dan berhasil
melepaskan cengkraman tangan fandika. Fandika hanya bisa terpaku menatap
kepergian alda.
“Kapanpun
kamu mau, hubungin kakak. aku pasti dateng.
Pergilah Al, asal jangan meninggalkan luka dan jangan kembali tanpa
membawa penawarnya.”
Teriakan fandika membuat Alda tergetar . Ia sempat menoleh. Tapi
langkahnya tak mau untuk berhenti. Terus melangkah dan meninggalkan cinta yang
pernah ia perjuangkan itu. sebenarnya ia hanya butuh kepastian dari fandika.
Alda dilanda ketakutan yang luar biasa jik aharus bersama dengannya tanpa
ikatan selain kekasih. Tapi fandika, ia benar-benar merasa belum cukup ilmu dan
bekal sehelai keberanian untuk segera mewujudkan mimpinya dengan alda. Meskipun
ia telah bertahun-tahun mengajar dan mampu kuliah dengan hasil yang ia kumpulkan,
namun semua yang ia lakukan Lebih tepatnya disebut sebagai pengabdian. Karena
tak bisa diceritakan berapa hasil yang ia dapatkan. Fandika tak mau orang yang
dicintainya sengsara. Namun, saat
perjuanganya selama ini telah sirna begitu saja karena Alda harus pergi
memperjuangkan cintanya. Cinta yang seharusnya adalah dirinya. Ia menghardik
dirinya sendiri karena tak jua menjadi yang terbaik untuk Alda. Diakhir sisa
waktu liburan semester dari separuh perjalanan studinya, Alda harus pergi
meninggalkan ia dan seluruh kenangan mereka. Fandikapun memutuskan kembali
dimana ia harus berproses. Bukan untuk melupakan, tapi untuk menjemputnya
kembali jika Tuhan mengijinkan. Sedangkan Alda, ia pergi dan ingin menutup
harapan yang meski telah lama ia perjuangkan. Studi yang tidak main-main
bukanlah alasan yang utama, namun ia harus pergi untuk memilih dan melangkahkan
pilihanya entah siapa. Memilih yang terbaik ternyata hanya alasanya
meninggalkan Fandika. Keyakinan hati yang yang terus ia lawan, kepasrahan yang
terus menerus ia semayamkan membuat ia beranjak dari cinta menuju penantian dan
janji fandika yang sesungguhnya.
Hari berlalu dan kenangan itu selalu saja menjadi hal beku yang tak
pantas ia kenang kembali. memutuskan untuk tidak kembali ke Jogja meski beberapa
semester telah terlewati. Namun, keluarganya sangat mengerti watak anak
tercintanya itu. Sebenarnya Alda tak tega jika kedua orang tua dan adiknya,
khalim harus beberapa kali menjenguknya. Ada alasan tersendiri mengapa ia
bertahun-tahun tak mau pulang yaitu untuk bekerja demi meringankan beban orang
tuanya. Juga melupakan masa-masa sulit dimana ia harus menutup hatinya. Begitu
cepatnya waktu yang tak bisa dihentikan itu mengantarkan alda sampai pada masa
dimana ia harus meninggalkan tempat dimana ia berproses. Bertahun-tahun lamanya
ia berproses di bangku kuliah dan lulus sesuai progres. Beberpa hari yang lalu
salah satu dari beberapa lamaran
mengajar yang ia kirim diterima. Kejutan yang sangat luar bisa dari sang kuasa.
Begitu pikir Alda. Itu artinya ia akan rindu keramaian kereta dan lalu lalang
mahasiswa di jalan Ahmad Yani, Gang Lebar
Jemur Wonosari, gang Dosen dan Wonocolo gang Zubair yang Asri. Semuanya menjadi
saksi proses perjuangan menapaki akhir studinya di kota pahlawan yang penuh
kenangan. Ada rasa Rindu tak tertahankan. Mungkin rindu itu pula yang menyebabkan
Alda harus meninggalkan kota metropolitan membawanya kembali ke Jogja. Ya, ia
akan merintis karirnya disana. Baginya, jogja tanpa cinta bukanlah masalah
karena kebahagiaan Alda sesungguhnya adalah senyum bangga keluarganya yang
merupakan segalanya baginya. Hingga suatu saat hari hari yang ia lalui berubah
ketika rasa penyesalan yang melanda. Sejak pertemuanya dengan syaiku di angkot
menuju rumah. Beberapa menit ia bercakap-cakap sebelum ia turun dari angkot.
Kata kata pedih yang syaiku lontarkan kepadanya adalah : “ cukup gue sama Fandika
aja Al yang loe sakitin. Meski gue ada dihati loe hanya sesaat ngga kayak
Fandika yang perjuangin cintanya sampai segitunya, dari Loe gue tau tenyata
cinta nggak kayag yang gue fikirin. Maksih banget Al loe bener-bener kuat
memegang prinsip. Sekarang apa masih ingin merjuangin farhan? Masih ingin
mencari kualitas mencari kualitas atau sekedar baper mengungkapkan rasa yang
terlintas Al?!”
Teruntuk
orang yang merindu dan kurindukan. Maaf tak memajang foto dan senyumku selama
ini. agar suatu saat kau tau tentang prinsip yang kupegang untuk mnjaga
diri. Teruntuk jodohku kelak, tak perlu ucapan agar kau tau aku merindumu.
Aku harap kita segera bertemu karena aku tak mau ada lagi hati yang
tersakiti seperti waktu yang telah berlalu. Aku rapuh jika aku harus
merapuhkan banyak hati. Menutup pintu hati untukmu? Lalu kapan kau datang
dan membuktikan janji yang
sesungguhnya?
Syaiku, farhan,fandika, mengapa yang aku harapkan ternyata
bukan mereka.
Dan ternyata cinta bukan nafsu dan maksiat semata.
|
Begitu jleb, menusuk relung masa lalunya. Meski ia sama sekali
tidak lagi menghubungi farhan. Ia telah menyia-nyiakan Fandika yang telah
berjuang sekian lama memperbaiki diri dan ekonomi demi impian-Nya bersama Alda.
Senja
telah bertepi menapaki cakrawala yang sepi dari senyum mentari. Hari yang
sangat melelahkan bagi insan yang dipekerjakan oleh duniawi. Hari yang
menyenangkan bagi insan yang pandai bersyukur atas yang Tuhan karuniai. Namun
apa arti berlalunya hari bagi sorang
pecinta yang slalu merindukan seseorang yg ia nanti. Di tepi danau dengan Semilir
angin menerpa. Teraja sejuk nan menyimpan tanya. Menerpa wajah gadis yang
sedang memandang danau yang luas didepanya.
Entah berapa lama ia tetap tak beranjak dari tempat duduknya. Laki laki
yang muda belia memandang punggungnya tanpa suara.
“Adakah pecinta yang lebih jahat dari aku lim. Berapa banyak hati
yang aku koyakkan.”
“Mbak alda jangan terus menerus menyalahkan diri sendiri. Itu semua
tidak akan menyelesaikan masalah. Apalagi dengan mbak seperti ini, membuat
semuanya semakin rumit.”
Wanita itu terus terisak lirih. Pemuda belia yang ternyata adik
kandungnya duduk disampingnya. Seakan tau apa yang dirasakan wanita yang
dicintainya setelah ibunya itu, ia menyandarkan kepala alda dipundaknya.
“Sampeyan ndak salah mbak, hanya butuh waktu untuk memperbaiki
keadaan kembali seperti semula. Dan aku yakin, mbak bisa.”
Sejenak dipandangi adiknya itu. Masih sangat muda untuk tau tentang
permasalahan rumit yang menurutnya sangat sulit dihadapi itu. Ia teringat saat
saat remaja, sedang adiknya masih balita. Bermain tidak peduli dengan teriknya
sinar mentari yang menggelapkan kulitnya sedikit demi sedikit hingga memeasuki
bangku sekolah dasar. Agaknya adik yang sangat ia cintai menemui dunianya. Ia
mulai mandiri dan belajar berbagai hal dan jarang bermain dibawah terik matahari sehingga kulit
sawo matang nya lebih terawat. Waktu berjalan begitu cepat. Saat ini adik
kecilnya itu telah siap disampingnya sebagai sandaran segala masalah yang ingin
ia tumpahkan saat itu.
“ayo kembali, jangan membuat mbah khawatir. Seharian embak
disini tidak akan merubah apapun.”
Alda masih diam tak bergeming. Sampai adiknya menarik tanganya
perlahan untuk mengajak Alda berdiri. Seumur hidupnya, khalim tak pernah
melihat kakak perempuan satu satunya itu serapuh saat ini. Wanita kuat yang
sering ia rindukan kasihnya. Sejak kecil tangan-tangan halusnya selalu ia
rindukan meski harus menunggu alda pulang dari kota pahlawan sebulan sekalii
sampai ia lulus. Namun ia takkan pernah bisa jauh dari alda hingga ia beranjak
remaja dan harus meneruskan studinya di jogja. Entah masalah yang dihadapi
wanita yang saat ini ia genggam tangannya itu sebesar apa. Namun yang pasti, ia
tau hati wanita dan logika rumitnya membuat masalah semakin merapuhkan kakak
kandungnya itu.
Tak sampai melangkah, sosok yang menggerogoti hati Alda itu telah
ada didepanya. Tapi apakah itu orang yang sama. Ia ragu. Khalim perlahan
meninggalkan mereka berdua memperbaiki semuanya atau hanya sekedar menyelesaikan
masalah setelah perietiwa empat tahun yang lalu terpisah oleh ego masing
masing. Meski sempat syok dan tak
menduga jika Fandika menemuinya, Alda berusaha tetap tenang. Disisinya ada
wanita cantik bercadar. Mungkin ini calon istri fandika, pikirnya. Fandika
mengangguk pada wanita itu. wanita itupun meninggalkan mereka berdua dan
menyusul khalim. Keheningan sesaat tercipta.
“ Aku tau keputusanmu saat itu salah. Tapi, aku pergi karena aku
menghormatinya. Dan rasa itu takkan pernah berubah Al..”.
Alda tetap diam. Lidahnya kelu, kakinya tak sanggup untuk
melangkah. Ia terpaksa kembali duduk. Fandika duduk di batu dekat danau namun
keheningan senja itu membuat suaranya yang pelan menjadi nyaring.
“ aku tak mau berlarut, besok aku kesini mengajak keluargaku untuk
mengkhitbahmu. Akan aku penuhi janjiku padamu beberapa tahun yang lalu. Saat
kau bilang malu padaNya.”
Alda terisak lirih. Fandika agak ragu meninggalkanya. Namun Alda
tak jua menghentikan isaknya. Fandika merasa berslah membuat wanita yang
dicintainya itu syok. Ia membujuk alda sembari membuka ponselnya menghunbungi
khalim agar segera menuntun Alda pulang. Sesampainya diruang di ruang tamu,
giliran Fandika yang syok melihat rombongan keluarganya telah berada disana.
“ Loh, Pak... mak... kok sudah disini?”
“ Katanya tadi secepatnya, ya sekarang ini waktu yang paling tepat.
Mumpung tanggalnya bagus ini lho, lha wong sudah bertahun tahun setelah kamu
lulus selalu menghindar kalo ditanya tentang pernikahan dengan nak Alda.
Sekarang tunggu apa lagi ?”.
Rupanya kedua keluarga ini telah lama membahas kedua anak mereka.
Tinggal keputusan Alda yang dinantikan kedua belah pihak. Namun, Alda tak habis
fikir . Sesingkat itu Fandika mengakhiri penantianya? Alda belum percaya
sepenuhnya kenyataan yang ia hadapi. Ia memang menyadari keputusannya beberapa
tahu yang lalu salah hingga menyakiti fandika. Tapi, empat tahun tanpa kabar
bukan hal yangg bisa diterima begitu saja. Dan sekarang, ia tiba-tiba ingin
datang bersama kelurganya. Sangat mengejutkan. Menikah bukanlah hal main-main.
Tak sebercanda fandika yang sukses membuat ia tertawa saat ia gulana. Alda
benar benar menggelengkan kepala. Lagi lagi Tak habis fikir dengan apa yang ia
hadapi saat ini. Suasana lenggang. Menunggu jawaban Alda.
“Bagi saya pernikahan adalah hal yang sakral dan terhormat. Dan
salah satu wujud hormat dan ta’dzim saya baik kepada kedua keluarga dan
terutama pada Sang Maha Cinta, izinkanlah saya untuk mengambil keputusan dengan
bermunajat dan menenangkan hati dari keterkejutan saya atas kejutan yang sangat
mengejutkan ini.” Akhirnya angkat bicara.
Semua yang hadir tak bisa menyangkal keputusan Alda. Pertemuan sore
itu berakhir dengan sendau gurau yang khas keluarga masing masing. Layaknya kerabat
yang lama berpisah. Sebelum pulang
Fandika memandang pujaan hatinya yang masih berkaca-kaca itu. Hatinya terenyuh
ada rasa sesal dan kesal. Gundah dan pasrah. Alda tak memberikan kepastian
berapa lama ia akan memberikan keputusannya. Selama itu pula hidup Fandika
seakan antara hidup dan mati. Berjalan seperti mayat hidup. Satu bulan berlalu
dan jawaban belum juga datang. Fandika sering menelpon khalim hanya untuk
sekedar menyapa dan menunggu keputusan penting dari seseorang yang ia harap
akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak. Di suatu pagi yang cerah, mentari
menyapa penuh tanda tanya. Cerminan hati Fandika saat itu. suasana rumahnya
ramai dan penuh hiruk pikuk. Ia tak menyangka Alda telah memberikan jawabanya.
Seharian ia membujuk ibunya agar mau bercerita bagaimana Alda memberikan
jawaban.
“ sudah toh le, yang penting kan anak bapak ini akan menikah
dengan gadis pujaanya. Sudah, jangann ganggu makmu. Sana siap-siap nanti
malam ijab kabulnya di Rumah mertuamu habis isya’ lo.”
Fandika hanya terbengong-bengong menatap bapaknya. Sekarang Fandika
yang dibuat terheran-heran oleh keadaan. Berkali-kali ia menampar pipinya hanya
untuk sekedar memastikan bahwa ia tidak sekedar bermimpi. Nanti malam adalah
akad yang ia impikan dan ia harapkan selama bertahun-tahun . Detak jantungnya
mulai tak menentu. hanya hitungan jam dan detik terus berjalan. Sebentar lagi
cinta akan merekah abadi setelah badai membuatnya layu. Senja sore itu adalah senja
yang berharga san penuh kebahagiaan baginya. Senja yang diselimuti pelagi. KetentuanNya
adalah keindahan tiada tara. Kebahagiaannya, Alda layaknya pelangi yang
menambah keindahan dikala senja. Pelangi senja yang tidak hanya menuntun
Fandika Merajut kenangan bersama Alda kembali, namun juga bersamanya memperjuangkan
lembaran baru setelah badai penuh cobaan yang berliku mereka lewati.
Tamat