Selasa, 04 September 2018

Salam Literasi !
Apa Kabar Pembaca Cerdas dan berkualitas ?
Semoga senantiasa dalam Rahmat dan RidhoNya

Hari ini admin mau berbagi sebuah artikel nih, Ini merupakan artikel yang saya buat semester lalu untuk memenuh tugas ilmu Nafs ( Psikologi).
jangan lupa share link ke temen kamu yaa...




Artikel singkat tentang Teori Belajar KONEKSIONISME 



Belajar merupakan hal yang sangat penting baik dalam lingkup luas maupun sempit khususnya tidak dapat dipisahkan dengan dunia pendidikan. Belajar menjadi hal yang banyak diteliti oleh banyak ahli. Salah satu aliran yang dikembangkan berbagai ilmuan memiliki sumbangsih yang sangat besar terhadap dunia pendidikan terutama terhadap proses belajar dan pembelajaran Berbagai teori terlahir dari bermacam-macam penelitian. Dari berbagai teori tersebut Teori belajar koneksionisme menjadi salah satu teori yang memberikan banyak sumbangan bagi dunia pendidikan khususnya maupun dunia psikologi Karena dalam psikologi, terdapat psikologi belajar dan pembelajaran. serta ilmu pengetahuan pada umumnya.
Teori belajar koneksionisme merupakan sebuah teori yag berasal dari percobaan john thorndik tentang puzzle box yang berisi seekor kucing.  Di dalam sangkar yang disebut puzzle box terdapat pengungkit, grendel dan alat percobaan lainya dimana peralatan tersebut berfungsi sebagai stimulus dan respon yang merangsang kucing untuk melepaskan diri dengan berbagai acara  dan memperoleh makanan yang berada diluar sangkar. Thorndik menyimpulkan bahwa belajar merupakan proses stimulus dan respon dengan arti tingkah laku  yang dipelajari merupakan alat bantu untuk mencapai sesuatu yang dikehendaki. Terdapat tiga hukum yang ditemukan thorndik yaitu : Hukum Pengaruh, Hukum Persiapan, dan Hukum Latihan.
1.)    Hukum Pengaruh( low of effects) : Jika suatu tindakan menghasilkan suatu hal yag memuaskam, maka kemungkinan besar tindakan atau prilaku tersebut akan diulangi. Sebaiknya, jika tindakan yang dilakukan menyebabkan hal yang tidak memusakan maka kemungkinan tindakan tersebut tidak diulangi lagi. Hukum ini berhubungan dengan pujian dan teguran, atau hadiah dan hukuman.
2.)    Hukum kesiapan ( low readness) : seberapa besar hasil individu dalam melakukan sesuatu dapat dilihat berdasarkan kesiapan untuk melakukan sesuatu. Seseorang akan berhasil daam belajar ketika ia sudah siap untuk belajar.
3.)    Hukum Latihan ( low excerse): semakin sering dilatih, kebisaan individu terhadap sesuatu hal akan semakin kuat. Dan semakin jarang dilatih maka lama kelamaan kemampuan individu dalam melakukan suatu hal akan berkurang.
                                   


Konsep Thorndik sebelum tahun 1930 :

1.)    Hukum Muttiple responds ( proses jamak) ; individu mengalami trial dan eror. Artinya, menerima banyak respon hingga sampai pada reson yang tepat. Dengan kata lain individu akan belajar dari kesalahan yang ia lakukan ssebelumnya.
2.)    Hukum Set atau Attitude  ( latar belakang dan sikap) : hukum ini menjelaskan bahwa proses belajar tidak dipengaruhi stimulus dan respon saja, namun kemampuan psikomotor, emosional individu juga menentukan proses belajar seorang individu
3.)    Hukum prepotency of elements ( kualitas elemen ) dalam pembelajaran, elemen yang dinamakan stimulus tidak semua sama. Ada yang sangat diperhatikan ada yang tidak perlu untuk diperhatikan sam asekali. Karena elemen dilihat dari kualitasnya sangat menentukan  hasil belajar. Tergantung dari sudut mana elemen tersebut di pandang
4.)    Hukum asimilaton atau analogy : hukum ini menjelaskan bahwa sesuatu hal yang sring didengar atau ditemui sebelumnya akan lebih dikenal dan tidak asing bagi seorang individu sehingga materi yang sering ditemui kata-kata tersebut mudah dipelajari.
Konsep sesudah tahun 1930
Dalam International Congress of Psychology di New Haven – Connecticut bulan September 1929, Thorndike merubah konsepnya. Atau lebih tepatnya merevisi hal berikut antara lain:

Law of Exercise ditinggalkan. Sebab law of use tidak memperkuat hubungan dan sebalilknya law of disuse tidak memperlemah hubungan
b. Law of Effect Revised direvisi

Alasan merevisi law of effect adalah hanya sebagian saja dari hokum ini yang benar; dimana respon yang diikuti oleh satisfying state of affair dapat memperkuat hubungan antara stimulus-respon, tetapi respon yang diikuti oleh annoying state of affair tidak mempengaruhi hubungan stimulus-respon. Revisi Thorndike terhadap hukum adalah :”reinforcement increases the strength of a connection, whereas punishment does nothing to the strength of a connection”.
c. Belonginess

Suatu materi pelajaran akan lebih mudah diberikan jika diatur dalam susunan tertentu. Dalam hal ini organisms dapat belajar dengan baik jika ada suatu contiguity dan susunan materi yang bagus. Menurut Thorndike bahwa belajar dapat efektif jika ada hubungan yang alami antara kebutuhan organisme dan efek dari respon yang dibuat oleh organisme
d. Spread Of Effect

Reinforcement tidak hanya memperkuat respon yang dibuat individu, tetapi juga memperkuat respon-respon yang ada disekitar respon tersebut.
A satisfying state of affair = suatu kondisi dimana mahkluk tidak mau menghindarinya, berusaha untuk memperoleh atau mempertahankannya.


Thorndike dan Pendidikan
Sebagai dosen pendidikan di Teachers College, Columbia University, Thorndike menulis buku-buku yang membahas topik-topik seperti tujuan-tujuan pendidikan , proses-proses pembelajaran, metode-metode pengajaran , rangkaian-rangkaian kurikulum, dan teknik-teknik untuk menilai hasil-hasil pendidikan.

1. Prinsip-prinsip Pengajaran;

Guru harus membantu siswa membentuk kebiasaan yang baik. Thorndike mengatakan:
a. Bentuklah kebiasaan. Jangan berharap kebiasaan-kebiasaan itu terbentuk sendiri.
b. Hati-hati jangan sampai membentuk suatu kebiasaan yang nantinya harus diubah.
c. Jangan membentuk dua/lebih kebiasaan ketika satu kebiasaan saja sudah cukup.
d. Jika hal-hal lainnya berjalan sesuai harapan, bentuklah kebiasaan dengan cara yang sesuai dengan bagaimana ia nanti digunakan.

ketrampilan yang mereka peroleh. Penggunaan-penggunaan pengetahuan dan ketrampilan ini harus dipelajari dalam hubungannya dengan materi ajar.
2. Rangkaian Kurikulum.

Sebuah ketrampilan harus diperkenalkan:
a. Pada saat atau sesaat sebelum ketrampilan tersebut dapat digunakan dengan cara yang sesuai.
b. Pada saat siswa sadar bahwa mereka membutuhkan ketrampilan tersebut sebagai sarana memenuhi beberapa tujuan yang bermanfat.
c. Ketika ketrampilan tersebut paling cocok dengan kemampuan siswa dalam hal tingkat kesulitn.
d. Ketika ketrampilan tersebut paling selaras dengan level dan tipe emosi, selera, serta kecenderungan naluriah dan kecenderungan yang didasarkan atas kemauan sendiri yang paling aktif pada saat itu.
e. Ketika ketrampilan tersebut ditunjang secara optimal oleh pembelajaran-pembelajaran yang diperoleh tepat sebelumnya dan ketika ketrampilan tersebut akan dapat menunjang pembelajaran yang akan terjadi tak lama setelahnya secara optimal.



Syukron sudah mengunjugi Blog kami.. :-)

Selasa, 20 Februari 2018

Latihan nulis cerpen

Assalamualaikum,,,, kali ini saya akan membagikan cerpen cinta  Karya Originalku.... selamat membaca ... salam Literasi !!



Angin bertiup syahdu diantara dedaunan yang gugur di musim yang penuh haru. Musim yang bahagia namun harus terbalut pilu yang mendera. Mentari menebar senyumnya bersama dengan kebekuan rindu di Stasiun yang penuh kenangan sendu. saat Alda bisa berjumpa dengan orang-orang terkasihnya di Jogja. Bapak, ibu, adiknya dan sanak kerabat kecilnya melalui stasiun ini. Stasiun yang tidak banyak berubah letak bangunanya. Hanya saja perbaikan telah banyak dilakukan. Tempat yang juga menjadi kenangan pahit sekaligus saksi teriakan mereka berdua.
“ Aku sudah tidak sanggup jika kakak terus mengatur dengan siapa aku harus berteman, bukan begitu caranya mengungkapkan ketidakpercayaan !”. teriakan alda yang sangat keras itu mengejutkan laki-laki styles manis diseberang jalan. Tidak kalah mengejutkan, laki-laki itu ikut berteriak sembari mengejar gadis itu.
“Itu yang namanya berteman? aku udah sangat percaya tapi apa iya harus dibiarkan gitu aja kenyamananmu sama cowok sok alim itu !” dengan susah payah fandika mengejar alda yangg terus berlari seakan mengejar angin yang berlalu.
 Ia sudah cukup lelah namun alda telah berhasil memasuki kereta.  Fandika hanya terpaku berdiri dengan penuh kekecewaan. Ia  tau maksud  alda yang sengaja berangkat dari jogja sore hari agar sampai disurabaya malam hari dan ia tidak mungkin menyusulnya ke surabaya malam itu juga. Yang tidak ia sangka adalah alda, gadis yang begitu berharga dimatanya bisa senekat itu mengakhiri pertemuan di kebun milik ayahnya sore itu. Entah sejak kapan ia memesan tiket kereta. Alda, gadis yang begitu ia kagumi entah dari mana ia harus menceritakan jika ia ditanya mengapa ia mengaguminya.
            Tuhan menebar cinta dalam kehidupan. Mengapa manusia masih mempermasalahkan ikatan sedang yang disyariatkan tak jua datang sesuai harapan. Masih adakah yang mengatakan: tertatiku mencari cinta. Dimana ia berada sebenarnya. ada  duka dan nestapa dalam hati yang gundah ada cinta disana yang sedang dipersalahkan. Ada sesuap nasi dan harta benda dan cinta ada disana melengkapi kecukupan mereka. Ada kemiskinan dan kekurangan dalam sebuah bahtera disana cinta menguatkan mereka agar tetap kuat menghadapi tantangan yang ada. Ada kecantikan yang didamba dan semua mata mengatasnamakan cinta untuk memilikinya. Sebenarnya apa yang ada difikiran mereka yang mendamba cinta merasa kesepian tanpa pasangan jiwa katanya. Dari sudut pandang mana mereka berkaca dan menempatkan harapan mereka tentang cinta. Aku ingin cintaku terjaga dan tak dipertemukan dengan cinta jika harus serumit ini yang aku hadapi. Sahabat, siapa yang bersalah jika seorang alda dipertemukan terlebih dahulu dengan cinta untuknya namun tak jua menentramkan hatinya. Masih jelas dalam ingatan Alda, satu minggu yang lalu di stasiun yang bersejarah bagi perjalanan hidupnya itu sebelum empat hari berikutnya ia kembali ke jogja ke rumah neneknya.
Liburan panjang belum berakhir tapi telah ia putuskan untuk segera sampai di kota tempat ia belajar. Terik mentari membakar  bumi, Universitas yang berdiri megah itu harus ia masuki kembali. Bukan untuk bertatap muka dengan dosen atau berbagai kajian diskusi. Hanya untuk segera membangkitkan semangatnya yang membara ketika menuntut ilmu disana. Semangat yang ia butuhkan saat ini untuk menghadapi bukan menghindari segala masalah. Hatinya bimbang sehingga semangatnya mulai pudar seperti cinta semu yang menurutnya tidak pantas untuk ia terima saat ini. Ia diminta untuk menjadi narasumber dibeberapa kajian selama tiga hari. Cukup membakar semngatnya. Namun dimanapun ia berada, kegundahan tetap saja menyelimuti hatinya. Tiga hari kemudian ia kembali ke jogja namun tidak dirumahnya, melainkan dirumah neneknya yang saat ini tinggal bersama adiknya, khalim yang bersekolah di salah satu Madrasah Aliyah di Jogja. Terkesan bolak balik dan membuang waktu memang. Toh fandika tidak akan berhenti untuk terus mencarinya untuk memperjuangkan cintanya pada alda. Meski sudah berapa panggilan yang ia abaikan. Sejak bertemu dengan alda, fandika tau bahwa cinta tak selalu tentang nafsu dan kemaksiatan. Alda mengajarkannya hakikat cinta padanya. Mengajarkan tentang kelembutan dan kesabaran yang tak pernah ia miliki. Alda telah berhasil membuat kehidupan fandika berubah drastis. Menyisipkan buih-buih ketaqwaann dalam cinta yang ia berikan. Mengajari tentang kekuatan cinta melawan hasrat untuk memiliki dan bukan lampiasan keindahan yang harus dimiliki oleh seorang pecinta. Kejadian di stasiun argo bromo itu rupanya sangat memukul hati Fandika. Ia tidak menyangka alda akan senekad itu. Tidak biasanya ia memilih menghindar dari pada menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Masalah sepele yang sebenarnya tidak asing lagi mereka berdua selesaikan. Sudah berhari hari fandika terlontag lantung mencari alda. Dimana ia sekarang. Ia bagai ikan yang sudah hampir mati karena tak tersentuh air. Semacam sakit taipi tak berdarah. Semacam pedih tapi peluh tak jua mengerti akan hati yang tak faham bahwa saat ini bukan waktunya untuk mengeluh. Menggetarkan puing-puing hati bukanlah hal yang mudah untuk seseorang yang yang tak menghiraukan hati. Semacam ingin berteriak namun jeritanpun tak mampu meredam gejolak yang ada. Belajar bahwa cinta bukanlah ungkapan ekspresi jiwa semata. Bukan tentang nafsu yang menguasai jiwa dan berdalih atas nama cinta. Tapi tentang kalam ilahi yang terpancar dari sanubari suci seorang insan.Tuhan menganugrahkanya sebagai rahmat dan bukan sebagai ikatan yang pantas untuk dihujat.
“ Ampun supe mas, kathah masalah kados ngeten niki mpun saget njenengan adepi. Embak nggeh mung mberjuangne tresnone. Kula nggeh mboten ngragoke njenengan maleh. Nanging Gusti Allah mboten Sare mas, ingkang kuwoso molak malikke manah. Nanging Sedoyo mpun pertelo. Dados nopo maleh ingkang dipermasalahaken?”
Di ujung sana fandika hanya terpaku meresapi tiap kata yang diucapkan oleh khalim, seluruh ototnya seakan tidak berfungsi. Ia tutup percakapan mereka via telepon genggam karena khalim memang tidak mau memberitahukan dimana alda. Dengan sekuat tenaga ia bangkit dan melajukan sepeda menyelusuri sepanjang jalan dikota wisata, jogja meskipun ia tak tau dimana sekarang alda berada. Informasi dari salah satu temannya bahwa Alda telah kembali ke jogja membuat ia bertekad mencari alda. Dan jika dihadapanya ada samudra yang membentang pun ia lebih memilih menyebranginya meski ia tau akan tenggelam dari pada berdiam diri diantara konfliknya dengan Alda. Ia bertekad menyelesaikan semuanya.
“Alda, dimana kamu sekarang berada? loe tau, gue seperti mayat hidup. Liburan semester yang seharusnya sejenak mengakhiri kerinduan gue malah buat gue sengsara kayak gini. Apa salah gue jika gak ingin kehilangan loe Al?”.
Sepanjang jalan fandika mengenang semua kenangan bersma alda. Saat alda mengajarinya tentang kesederhanaan. Ia masih mengingat janjinya pada alda tentang mempertahankan apa yang seharusnya dipertahankan. Menjaga apa yang seharusnya dijaga. Alda mengajarkan itu semua. Kehambaan dan ketaqwaan. Ia terus bercerita sepanjang jalan. Layaknya orang dengan gangguan kejiwaan. Meski tak nyaring, itu membuat tenggorokanya cukup kering dan memutuskan untuk membasahi kerongkonganya.
“ Air minum satu buk !”
Pemilik warung yang sedang bercakap-cakap dengan wanita muda dihadapanya itu segera mengakhiri pembicaraan mereka dan menyuguhkan satu botol air mineral. Wanita itu segera minta izin untuk pulang karena merasa keperluanya telah selesai.
“ Alda !”
Wanita itu menoleh dan  segera berlari menghindari lelaki yang memanggilnya. Namun fandika telah berhasil meraih tanganya yang dibalut dengan kain itu.  Sekuat tenaga, Alda berusaha melepaskan cengkraman tangan orang yang pernah ia cintai itu.
“ loe nggak boleh seenaknya permainin banyak hati Al !, Syaiku, farhan, dan hati sebelumnya , loe nggak boleh nyakitin banyak hati lagi. Cukup gue ! ya... ckup Gue !”
“ kak, aku berhak mencari yang terbaik. Aku berhak memilih yang terbaik !”
Alda tersedu. Tak mampu melanjutkan pembelaan terhadap perasaanya.
“ Mencari yangg terbaik ? memilih yang terbaik ? inget Al, berkali-kali kayak gini. Tapi berkali-kali pula  kita mampu nyelesai’in semuanya. Sayang....please, kita selesaikan semuanya baik-baik, oke...”
“Kak, semuanya udah jelas kan. Apalagi yang perlu diselesaikan?  Aku udah memutuskan semuanya. Jadi, maaf untuk tiga tahun yang membuang waktu kakak.” Alda masih tersedu dan berhasil melepaskan cengkraman tangan fandika. Fandika hanya bisa terpaku menatap kepergian alda.
“Kapanpun kamu mau, hubungin kakak. aku pasti dateng.  Pergilah Al, asal jangan meninggalkan luka dan jangan kembali tanpa membawa penawarnya.”
Teriakan fandika membuat Alda tergetar . Ia sempat menoleh. Tapi langkahnya tak mau untuk berhenti. Terus melangkah dan meninggalkan cinta yang pernah ia perjuangkan itu. sebenarnya ia hanya butuh kepastian dari fandika. Alda dilanda ketakutan yang luar biasa jik aharus bersama dengannya tanpa ikatan selain kekasih. Tapi fandika, ia benar-benar merasa belum cukup ilmu dan bekal sehelai keberanian untuk segera mewujudkan mimpinya dengan alda. Meskipun ia telah bertahun-tahun mengajar dan mampu kuliah dengan hasil yang ia kumpulkan, namun semua yang ia lakukan Lebih tepatnya disebut sebagai pengabdian. Karena tak bisa diceritakan berapa hasil yang ia dapatkan. Fandika tak mau orang yang dicintainya sengsara. Namun, saat  perjuanganya selama ini telah sirna begitu saja karena Alda harus pergi memperjuangkan cintanya. Cinta yang seharusnya adalah dirinya. Ia menghardik dirinya sendiri karena tak jua menjadi yang terbaik untuk Alda. Diakhir sisa waktu liburan semester dari separuh perjalanan studinya, Alda harus pergi meninggalkan ia dan seluruh kenangan mereka. Fandikapun memutuskan kembali dimana ia harus berproses. Bukan untuk melupakan, tapi untuk menjemputnya kembali jika Tuhan mengijinkan. Sedangkan Alda, ia pergi dan ingin menutup harapan yang meski telah lama ia perjuangkan. Studi yang tidak main-main bukanlah alasan yang utama, namun ia harus pergi untuk memilih dan melangkahkan pilihanya entah siapa. Memilih yang terbaik ternyata hanya alasanya meninggalkan Fandika. Keyakinan hati yang yang terus ia lawan, kepasrahan yang terus menerus ia semayamkan membuat ia beranjak dari cinta menuju penantian dan janji fandika yang sesungguhnya.
Hari berlalu dan kenangan itu selalu saja menjadi hal beku yang tak pantas ia kenang kembali. memutuskan untuk tidak kembali ke Jogja meski beberapa semester telah terlewati. Namun, keluarganya sangat mengerti watak anak tercintanya itu. Sebenarnya Alda tak tega jika kedua orang tua dan adiknya, khalim harus beberapa kali menjenguknya. Ada alasan tersendiri mengapa ia bertahun-tahun tak mau pulang yaitu untuk bekerja demi meringankan beban orang tuanya. Juga melupakan masa-masa sulit dimana ia harus menutup hatinya. Begitu cepatnya waktu yang tak bisa dihentikan itu mengantarkan alda sampai pada masa dimana ia harus meninggalkan tempat dimana ia berproses. Bertahun-tahun lamanya ia berproses di bangku kuliah dan lulus sesuai progres. Beberpa hari yang lalu salah satu dari beberapa  lamaran mengajar yang ia kirim diterima. Kejutan yang sangat luar bisa dari sang kuasa. Begitu pikir Alda. Itu artinya ia akan rindu keramaian kereta dan lalu lalang mahasiswa di jalan Ahmad Yani,  Gang Lebar Jemur Wonosari, gang Dosen dan Wonocolo gang Zubair yang Asri. Semuanya menjadi saksi proses perjuangan menapaki akhir studinya di kota pahlawan yang penuh kenangan. Ada rasa Rindu tak tertahankan. Mungkin rindu itu pula yang menyebabkan Alda harus meninggalkan kota metropolitan membawanya kembali ke Jogja. Ya, ia akan merintis karirnya disana. Baginya, jogja tanpa cinta bukanlah masalah karena kebahagiaan Alda sesungguhnya adalah senyum bangga keluarganya yang merupakan segalanya baginya. Hingga suatu saat hari hari yang ia lalui berubah ketika rasa penyesalan yang melanda. Sejak pertemuanya dengan syaiku di angkot menuju rumah. Beberapa menit ia bercakap-cakap sebelum ia turun dari angkot. Kata kata pedih yang syaiku lontarkan kepadanya adalah : “ cukup gue sama Fandika aja Al yang loe sakitin. Meski gue ada dihati loe hanya sesaat ngga kayak Fandika yang perjuangin cintanya sampai segitunya, dari Loe gue tau tenyata cinta nggak kayag yang gue fikirin. Maksih banget Al loe bener-bener kuat memegang prinsip. Sekarang apa masih ingin merjuangin farhan? Masih ingin mencari kualitas mencari kualitas atau sekedar baper mengungkapkan rasa yang terlintas Al?!”
Teruntuk orang yang merindu dan kurindukan. Maaf tak memajang foto dan senyumku selama ini. agar suatu saat kau tau tentang prinsip yang kupegang untuk mnjaga diri. Teruntuk jodohku kelak, tak perlu ucapan agar kau tau aku merindumu. Aku harap kita segera bertemu karena aku tak mau ada lagi hati yang tersakiti seperti waktu yang telah berlalu. Aku rapuh jika aku harus merapuhkan banyak hati. Menutup pintu hati untukmu? Lalu kapan kau datang dan membuktikan janji  yang sesungguhnya?
Syaiku, farhan,fandika, mengapa yang aku harapkan ternyata bukan mereka.
Dan ternyata cinta bukan nafsu dan maksiat semata.
Begitu jleb, menusuk relung masa lalunya. Meski ia sama sekali tidak lagi menghubungi farhan. Ia telah menyia-nyiakan Fandika yang telah berjuang sekian lama memperbaiki diri dan ekonomi demi impian-Nya bersama Alda.
Senja telah bertepi menapaki cakrawala yang sepi dari senyum mentari. Hari yang sangat melelahkan bagi insan yang dipekerjakan oleh duniawi. Hari yang menyenangkan bagi insan yang pandai bersyukur atas yang Tuhan karuniai. Namun apa arti  berlalunya hari bagi sorang pecinta yang slalu merindukan seseorang yg ia nanti. Di tepi danau dengan Semilir angin menerpa. Teraja sejuk nan menyimpan tanya. Menerpa wajah gadis yang sedang memandang danau yang luas didepanya.  Entah berapa lama ia tetap tak beranjak dari tempat duduknya. Laki laki yang muda belia memandang punggungnya tanpa suara.
“Adakah pecinta yang lebih jahat dari aku lim. Berapa banyak hati yang aku koyakkan.”
“Mbak alda jangan terus menerus menyalahkan diri sendiri. Itu semua tidak akan menyelesaikan masalah. Apalagi dengan mbak seperti ini, membuat semuanya semakin rumit.”
Wanita itu terus terisak lirih. Pemuda belia yang ternyata adik kandungnya duduk disampingnya. Seakan tau apa yang dirasakan wanita yang dicintainya setelah ibunya itu, ia menyandarkan kepala alda dipundaknya.
“Sampeyan ndak salah mbak, hanya butuh waktu untuk memperbaiki keadaan kembali seperti semula. Dan aku yakin, mbak bisa.”
Sejenak dipandangi adiknya itu. Masih sangat muda untuk tau tentang permasalahan rumit yang menurutnya sangat sulit dihadapi itu. Ia teringat saat saat remaja, sedang adiknya masih balita. Bermain tidak peduli dengan teriknya sinar mentari yang menggelapkan kulitnya sedikit demi sedikit hingga memeasuki bangku sekolah dasar. Agaknya adik yang sangat ia cintai menemui dunianya. Ia mulai mandiri dan belajar berbagai hal dan jarang  bermain dibawah terik matahari sehingga kulit sawo matang nya lebih terawat. Waktu berjalan begitu cepat. Saat ini adik kecilnya itu telah siap disampingnya sebagai sandaran segala masalah yang ingin ia tumpahkan saat itu.
“ayo kembali, jangan membuat mbah khawatir. Seharian embak disini tidak akan merubah apapun.”
Alda masih diam tak bergeming. Sampai adiknya menarik tanganya perlahan untuk mengajak Alda berdiri. Seumur hidupnya, khalim tak pernah melihat kakak perempuan satu satunya itu serapuh saat ini. Wanita kuat yang sering ia rindukan kasihnya. Sejak kecil tangan-tangan halusnya selalu ia rindukan meski harus menunggu alda pulang dari kota pahlawan sebulan sekalii sampai ia lulus. Namun ia takkan pernah bisa jauh dari alda hingga ia beranjak remaja dan harus meneruskan studinya di jogja. Entah masalah yang dihadapi wanita yang saat ini ia genggam tangannya itu sebesar apa. Namun yang pasti, ia tau hati wanita dan logika rumitnya membuat masalah semakin merapuhkan kakak kandungnya itu.
Tak sampai melangkah, sosok yang menggerogoti hati Alda itu telah ada didepanya. Tapi apakah itu orang yang sama. Ia ragu. Khalim perlahan meninggalkan mereka berdua memperbaiki semuanya atau hanya sekedar menyelesaikan masalah setelah perietiwa empat tahun yang lalu terpisah oleh ego masing masing. Meski sempat syok dan  tak menduga jika Fandika menemuinya, Alda berusaha tetap tenang. Disisinya ada wanita cantik bercadar. Mungkin ini calon istri fandika, pikirnya. Fandika mengangguk pada wanita itu. wanita itupun meninggalkan mereka berdua dan menyusul khalim. Keheningan sesaat tercipta.
“ Aku tau keputusanmu saat itu salah. Tapi, aku pergi karena aku menghormatinya. Dan rasa itu takkan pernah berubah Al..”.
Alda tetap diam. Lidahnya kelu, kakinya tak sanggup untuk melangkah. Ia terpaksa kembali duduk. Fandika duduk di batu dekat danau namun keheningan senja itu membuat suaranya yang pelan menjadi nyaring.
“ aku tak mau berlarut, besok aku kesini mengajak keluargaku untuk mengkhitbahmu. Akan aku penuhi janjiku padamu beberapa tahun yang lalu. Saat kau bilang malu padaNya.”
Alda terisak lirih. Fandika agak ragu meninggalkanya. Namun Alda tak jua menghentikan isaknya. Fandika merasa berslah membuat wanita yang dicintainya itu syok. Ia membujuk alda sembari membuka ponselnya menghunbungi khalim agar segera menuntun Alda pulang. Sesampainya diruang di ruang tamu, giliran Fandika yang syok melihat rombongan keluarganya telah berada disana.
“ Loh, Pak... mak... kok sudah disini?”
“ Katanya tadi secepatnya, ya sekarang ini waktu yang paling tepat. Mumpung tanggalnya bagus ini lho, lha wong sudah bertahun tahun setelah kamu lulus selalu menghindar kalo ditanya tentang pernikahan dengan nak Alda. Sekarang tunggu apa lagi ?”.
Rupanya kedua keluarga ini telah lama membahas kedua anak mereka. Tinggal keputusan Alda yang dinantikan kedua belah pihak. Namun, Alda tak habis fikir . Sesingkat itu Fandika mengakhiri penantianya? Alda belum percaya sepenuhnya kenyataan yang ia hadapi. Ia memang menyadari keputusannya beberapa tahu yang lalu salah hingga menyakiti fandika. Tapi, empat tahun tanpa kabar bukan hal yangg bisa diterima begitu saja. Dan sekarang, ia tiba-tiba ingin datang bersama kelurganya. Sangat  mengejutkan. Menikah bukanlah hal main-main. Tak sebercanda fandika yang sukses membuat ia tertawa saat ia gulana. Alda benar benar menggelengkan kepala. Lagi lagi Tak habis fikir dengan apa yang ia hadapi saat ini. Suasana lenggang. Menunggu jawaban Alda.
“Bagi saya pernikahan adalah hal yang sakral dan terhormat. Dan salah satu wujud hormat dan ta’dzim saya baik kepada kedua keluarga dan terutama pada Sang Maha Cinta, izinkanlah saya untuk mengambil keputusan dengan bermunajat dan menenangkan hati dari keterkejutan saya atas kejutan yang sangat mengejutkan ini.” Akhirnya angkat bicara.
Semua yang hadir tak bisa menyangkal keputusan Alda. Pertemuan sore itu berakhir dengan sendau gurau yang khas keluarga masing masing. Layaknya kerabat yang  lama berpisah. Sebelum pulang Fandika memandang pujaan hatinya yang masih berkaca-kaca itu. Hatinya terenyuh ada rasa sesal dan kesal. Gundah dan pasrah. Alda tak memberikan kepastian berapa lama ia akan memberikan keputusannya. Selama itu pula hidup Fandika seakan antara hidup dan mati. Berjalan seperti mayat hidup. Satu bulan berlalu dan jawaban belum juga datang. Fandika sering menelpon khalim hanya untuk sekedar menyapa dan menunggu keputusan penting dari seseorang yang ia harap akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak. Di suatu pagi yang cerah, mentari menyapa penuh tanda tanya. Cerminan hati Fandika saat itu. suasana rumahnya ramai dan penuh hiruk pikuk. Ia tak menyangka Alda telah memberikan jawabanya. Seharian ia membujuk ibunya agar mau bercerita bagaimana Alda memberikan jawaban.
“ sudah toh le, yang penting kan anak bapak ini akan menikah dengan gadis pujaanya. Sudah, jangann ganggu makmu. Sana siap-siap nanti malam ijab kabulnya di Rumah mertuamu habis isya’ lo.”
Fandika hanya terbengong-bengong menatap bapaknya. Sekarang Fandika yang dibuat terheran-heran oleh keadaan. Berkali-kali ia menampar pipinya hanya untuk sekedar memastikan bahwa ia tidak sekedar bermimpi. Nanti malam adalah akad yang ia impikan dan ia harapkan selama bertahun-tahun . Detak jantungnya mulai tak menentu. hanya hitungan jam dan detik terus berjalan. Sebentar lagi cinta akan merekah abadi setelah badai membuatnya layu. Senja sore itu adalah senja yang berharga san penuh kebahagiaan baginya. Senja yang diselimuti pelagi. KetentuanNya adalah keindahan tiada tara. Kebahagiaannya, Alda layaknya pelangi yang menambah keindahan dikala senja. Pelangi senja yang tidak hanya menuntun Fandika Merajut kenangan bersama Alda kembali, namun juga bersamanya memperjuangkan lembaran baru setelah badai penuh cobaan yang berliku mereka lewati.

Tamat

Selasa, 30 Januari 2018

MAKALAH PEDEKATAN KONTEKS STUDY ISLAM : FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, ANTROPOLOGIS, DAN FENOMENOLOGIS

Assalamualaikum.....
Apakabar semuanya? hari ini saya akan mengupload salah satu hasil makalah original saya yang saya buat semester satu lalu. yuk simak, semoga bermanfaat yaa... monggo yang mau dijadikan bahan asalkan ditulisi sumbernya yaa..... yaitu saya... wkwkwkwk.... :-D
SEMOGA BERMANFAAT .....
Makalah Pengantar Studi Islam
PENDEKATAN KONTEKS STUDI ISLAM

( Pendekatan Antropologis, Sosiologis, Filosofis dan Fenomenologis)


FAKULTAS TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2017









Dosen Pengampu :Dr. Junaidi,MAg.

Disusun Oleh :
Za’irotul Auliya ( NIM D92217037 )






            Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, nikmat, taufiq, serta hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Pendekatan Dalam Konteks Study Islamsebagai pertanggungjawaban atas tugas Pengantar Study Islam yang berikan. Di dalam penyusunan makalah ini saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, terutama Bapak Dr. Junaidi,MAg. selaku guru dan pembimbing.
Namun sebagai penulis, kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, maka dari itu kami menerima kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga di masa yang akan datang kami mampu menyusun makalah dengan jauh lebih baik lagi. Dan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca. Amin.



Surabaya, 5 Nopember 2017

Penyusun




Daftar Isi

Daftar Isi...................................................................................................................3

 




PENDAHULUAN
            Semua agama, pada hakikatnya terbentuk berdasarkan wahyu dan tafsir terhadap wahyu. Wahyu bersifat pasti dan tetap. Ia merupakan pernyataan aktual dan mengandung kebenaran kebenaran-kebenaran abadi.[1] Islam sebagai agama yang sempurna selain sebagai tuntunan juga sebagai penerang dari jalan kejahilan sebagai rohmat bagi seluruh alam. Begitu juga di tengah arus perkembangan peradaban ini, islam menjawab seluruh problematika dengan seluruh kalamNya bagi orang-orang yang berfikir dan bersungguh-sungguh memahami.
            Untuk mempelajari diperlukan metode dan pendekatan yang secara operasional - konseptual dapat memberikan pandangan tentang Islam.    Untuk saat ini, melakukan studi Islam dengan menggunakan berbagai macam pendekatan menjadi penting karena banyak diantara umat Islam dunia ini yang memiliki kecenderungan untuk mensakralkan pemikiran keagamaannya (taqdis al-afkar al-dini, menganggap pendapat kelompoknya paling benar, sementara kelompok yang lain disalahkan. Padahal, Islam sebagai agama tidak cukup dipahami melalui pintu wahyunya belaka, tetapi juga perlu dipahami melalui pintu pemeluknya, yaitu masyarakat muslim yang mengkhayati, meyakini dan memperoleh pengaruh dari Islam.Alasannya adalah bahwa Islam itu dipahami oleh pemeluk secara berbeda, karena setiap manusia memiliki pemahaman yang beragam, sehingga tidak dapat dipungkiri umat Islam untuk memiliki satu bentuk pemahaman yang sama.Oleh karena itu, didalam studi Islam terdapat multiplisitas pendekatan metode yang saling melengkapi dan mengisi secara kritis-komunikatif.[2]

C.     Tujuan Penulisan
1.   ) Untuk Mengetahui pendekatan antropologis Studi Islam
2.   ) Untuk Mengetahui pendekatan sosiologis Studi Islam
 3.  ) Untuk Mengetahui pendekatan Filosofis Studi Islam
 4.  ) Untuk Mengetahui pendekatan Fenomenologis Studi Islam



Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya dalam memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama tampak akrab dan dekat dengan masalah- masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Dengan kata lain, cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama.[3]
Dalam berbagai penelitian antropologi agama dapat ditemukan adanya hubungan positif antara kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi dan politik. Golongan masyarakat yang kurang mampu dan miskin pada umumnya lebih tertarik pada gerakan-gerakan keagamaan yang bersifat messianic, yang menjanjikan perubahan tatanan sosial kemasyarakatan. Adapun golongan orang kaya lebih cenderung untuk mempertahankan tatanan masyarakat yang sudah mapan secara ekonomi lantaran tatanan ini menguntungkan pihaknya. Melalui pendekatan antropologis, kita melihat bahwa agama ternyata berkorelasi dengan etos kerja dan perkembagan ekonomi suatu masyarakat. Dalam hal ini, jika ingin mengubah pandangan dan sikap etos kerja seseorang, kita mengubah pandangan keagamaannya.[4]
Melalui pendekatan antropologis, sebagaimana dijelaskan di atas terlihat dengan jelas hubungan agama dengan berbagai masalah kehidupan manusia, dan dengan itu pula, agama terlihat akrab dan fungsional dengan berbagai fenomena kehidupan manusia.
Pendekatan antropologis seperti itu diperlukan, sebab banyak hal yang dibicarakan agama hanya dijelaskan dengan tuntas melalui pendekatan antropologis. Dalam Al-Qur’an yang digunakan  sebagai sumber agama ajaran islam misalnya, kita memperoleh informasi tentang kapal Nabi Nuh di gunung arafah, kisah Ashabul Khafi yang dapat bertahan hidup dalam gua lebih dari tiga ratus tahun lamanya. Di mana kira-kira bangkai kapal Nabi Nuh itu, dan di mana kira- kira gua itu dan bagaimana pula bisa terjadi hal yang menakjubkan seperti itu, ataukah hal demikian merupakan kisah fiktif ? Tentu masih banyak lagi contoh lain yang hanya dapat dijelaskan dengan ahli geografis dan arkeologi.[5]
Dengan demikian, pendekatan antropologis sangat diutuhkan dalam memahami ajaran agama, karena dalam ajaran agama tersebut terdapat uraian dan informasi yang dapat dijelaskan melalui bantuan ilmu antropologi dengan cabang-cabangnya.[6]

Sosiologi adalah ilmu yang menggambarkan keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan.  Dan juga mempelajari kehidupan masyarakat dan menyelidiki ikatan- ikatan antara manusia  yang saling berkaitan  serta keyakinan-keyakinan yang mendasar terjadinya proses tersebut.[7]
Sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami pendekatan. Hal ini dapat dimengerti karena banyak kajian agama yang baru dapat dipahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dari ilmu sosiologi. Dalam ajaran islam dapat dijumpai peristiwa Nabi Yusuf yang dahulu budak lalu akhirnnya bisa jadi penguasa di Mesir. Mengapa dalam melaksanakan tugasnya Nabi Musa harus di bantu Nabi Harun dan masih banyak lagi masalah yang lain. Beberapa peristiwa tersebut baru dapat dijawab dan sekaligus dapat ditemukan hikmahnya dengan bantuan ilmu sosial. Disinilah peran sosiologi sebagai salah satu alat dalam memahami ajaran agama.[8]
Pentingnya pendekatan sosiologi dalam memahami agama dapat dipahami karena banyak ajaran agama yang berkaitan dengan masalah sosial. Besarnya perhatian agama terhadap masalah sosial ini selanjutnya mendorong kaum agama memahami ilmu-ilmu sosial sebagai alat untuk memahami agamanya. Dalam bukunya yang berjudul Islam Alternatif, Jalaludin Rahmat telah menunjukkan betapa besarnya perhatian agama, dalam hal ini islam, terhadap masalah sosial, dengan mengajukkan lima alasan berikut.
Pertama, dalam Al-Quran atau kitab-kitab hadis proporsi terbesar kedua sumber hukum islam itu berkenaan urusan muamalah. Menurut Aytul Khumaini, dalam bukunya Al-hukumah Al-islamiyah yang dikutip Jalaludin Rahmat yang mengungkapkan bahwa perbandingan antara ayat-ayat ibadah dan ayat-ayat yang menyangkut kehidupan sosial adalah suatu perbandingan seratus untuk satu ayat ibadah, dan seratus muamalah (masalah sosial).
Kedua, ibadah yang mengandung segi masyarakat diberi ganjaran lebih besar daripada ibadah yang bersifat perorangan. Oleh karena itu shalat yang dilakukan salat berjamaah dinilai lebih tinggi nilainya dari pada  shalat sendirian (munfarid) dengan ukuran satu berbanding dua puluh derajat.
Ketiga,dalam islam terdapat ketentuan bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal, karena melanggar pantangan tertentu, kifaratnya (kafaratnya) ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial. Bila puasa tidak mampu dilakukan misalnya, jalan keluarnya dengan jalan membayar fidyah dalam bentuk memberi makan bagi orang miskin. Bila suami istri bercampur di siang hari pada bulan ramadhan atau ketika istri dalam keadaan haid, tebusannya adalah dinyatakan bahwa salah satu orang yang diterima shalatnya ialah orang yang menyantuni orang miskin, anak yatim, janda, dan yang mendapat musibah.[9]
Melalui pendekatan sosiologis, agama dapat dipahami dengan mudah karena agama itu sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial. Dalam Al-Quran misalnya, kita jumpai ayat-ayat berkenaan dengan hubungan manusia lainnya, sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya kemakmuran suatu bangsa, dan sebab-sebab yang menyebabkan kesengsaraan. Semua itu jelas baru dapat dijelaskan apabila yang memahaminya mengetahui sejarah sosial pada saat ajaran agama itu diturunkan.[10]

Secara harfiah, kata filsafat adalah padanan dari bahasa Arab Falsafah dan bahasa Inggrisnya philosophy. Kata filsafat sendiri  berasal dari kata Philosophia, yakni gabungan dari kata “philos” yang artinya cinta, dan “sophos” yang berarti kebijaksanaan, dengan kata lain filsafat adalah cinta kepada kebijaksanaan.[11] Filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha mengkaitkan sebab dan akibat serta berusaha menafsirkan pengalaman pengalaman manusia. Sidi Gazalba mendefinisikan bahwa filsafat adalah berpikir secara mendalam,sistematik, radikal, dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti, hikmah atau hakikat tentang segala sesuatu yang ada. Artinya, bahwa inti filsafat merupakan upaya menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah tentang sesuatu yang berada di balik objek formalnya. Berpikir secara filosofis selanjutnya dapat digunakan dalam memahami ajaran Islam, dengan maksud agar hikmah, hakikat atau inti dari ajaran Islam dapat dimengerti dan dipahami secara seksama. [12]
Pendekatan Filosofis merupakan metode yang sering digunakan dalam studi keagamaan untuk mengkaji agama. Dalam pendekatan ini penekanannya lebih pada upaya penyingkapan dan pemahaman fenomena agama daripada menilai evisensi dan mengevaluasi kebenaran apa-apa yang diklaim agama. Pendekatan filosofis dalam studi agama mungkin harus melakukan penelitian dan penyelidikan yang berfokus pada: bagaimana ide-ide dan konsep-konsep dalam sejarah filsafat memungkinkan kita memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang doktrin atau memahami pandangan para teolog secara lebih akurat. Pendekatan ini berhubungan dengan teologi sehingga muncul “teologi filosofis” karena perangkat-perangkat dan teknik-teknik digunakan untuk meneliti persoalan-persoaln teologis dan memungkinkan mahasiswa menjadikan teologi lebih baik.
Sekadar contoh, Muhammad al-Jurjawi dalam bukunya Himah al-Tasyri wa Falsafatuhu berupaya mengungkapkan hikmah yang terdapat di balik ajaran-ajaran Islam. Ajaran shalat berjamaah misalnya memiliki tujuan agar seseorang merasakan hikmahnya hidup secara berdampingan dengan orang lain. Dengan mengerjakan puasa, agar seseorang dapat merasakan lapar yang selanjutnya menimbulkan rasa iba kepada sesamanya yang hidup serba kekurangan. Ibadah haji yang dilaksanakan di Kota Makkah, dalam waktu yang bersamaan, dengan bentuk dan gerak ibadah (manasik) yang sama dengan yang dikerjakan lainnya dimaksudkan agar seseorang berpandangan luas, merasa bersaudara dengan sesama muslim di seluruh dunia. Demikian halnya informasi tentang kehidupan para nabi terdahulu. Maksudnya bukan sekadar mengenangnya, tetapi bersamaan dengan itu diperlukan kemampuan mengungkap makna filosofis yang terkandung di belakang peristiwa tersebut. Kisah Nabi Yusuf yang digoda seorang wanita bangsawan, secara lahiriah menggambarkan kisah yang bertema pornografi atau kecabulan. Kesimpulan demikian bisa terjadi manakala seseorang hanya memahami bentuk lahiriah dari kisah tersebut. Namun, sebenarnya melalui kisah tersebut Tuhan ingin mengajarkan kepada manusia agar memiliki ketampanan lahiriah dan betiniah secara prima. Nabi Yusuf telah menunjukkan kesanggupannya mengendalikan dorongan seksualnya dari berbuat mesum. Sementara lahiriahnya ia tampan dan menyenangkan orang yang melihatnya, sementara Julaikha merupakan wanita bangsawan yang cantik jelita. Makna demikian dapat dijumpai melalui pendekatan yang bersifat filosofis. Dengan menggunakan pendekatan filosofis seseorang akan dapat memberi makna terhadap sesuatu yang dijumpainya, dan dapat pula menangkap hikmah dan ajaran yang terkandung di dalamnya.
Melalui pendekatan filosofis ini, seseorang tidak akan terjebak pada pengalaman agama yang bersifat formalistik, yakni mengamalkan agama dengan susah payah tapi tidak memiliki makna apa-apa, kosong tanpa arti. Yang didapati dari pengalaman agama hanyalah pengakuan formalistik, misalnya sudah berpuasa, sudah zakat, sudah haji, dan berhenti sampai di situ. Mereka tidak dapat merasakan nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Namun demikian, pendekatan filosofis ini tidak berarti menafikan atau menyepelekan bentuk pengalaman agama yang bersifat formal.[13]
Ilyas Supena menambahkan bahwa untuk mencapai predikat kebijaksanaan, maka syarat yang harus ditempuh adalah:
a. Orang harus membiasakan diri untuk bersikap kritis terhadap kepercayaan dan sikap yang selama ini sangat dijunjung tinggi
b. Memadukan temuan sains dengan pengalaman kemanusiaan sehingga menjadi pandangan yang konsisten tentang alam semesta dan isinya.
c. Mencermati jalan pemikiran para filsuf dan menempatkannya sebagai pisau analisis untuk memecahkan masalah kehidupan.
d. Mempelajai butir-butir hikmah atau pengetahuan yang
terkandung dalam ajaran agama.

Definisi fenomenologis yaaitu barasal dari bahasa Yunani “fenomenon”  yaitu sesuatu yang tampak yang terlihat karena berkecakupan. Dalam  bahasa indonesia dipakai istilah gejala, jadi fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan fenomena atau gejala sesuatu yang menampakkan diri. Ilmu yang dipelajari adalah ilmu tentang perkembangan kesadaran dan pengenalan diri manusia sebagai ilmu yang mendahului ilmun filsafat atau bagian dari filsafat.
 Pendekatan fenomenologis ini dilahirkan oleh sekelompok orang yang memililki perhatian steerhadap studi agama . di erpa pada perempat terakir abad ke 19. Pada dasarnya merupakann suatu usaha untuk mendekati agama secara ilmiah, sebagai fenomena sejarah yang paling penting dan universal. Charles J. Adams memberikn dua hal yang diperlukan untuk memehami pendekatan fenomenologis. Pertama, fenomenologis diartikan sebagai metode memahami agama orang lain dengan cara menempatkan diri pada posisi netral. Fenomenologis digunanakn untuk menerapkan metode dalam meletakkan pandangan subyektif peneliti. Kedua, sebagai konstruksi skema dalam mengklarifikasi fenomena denagn melintasi batas batas komunitas agama, budaya, dan zaman. Intinya dalah mencari esensi, makna, dan struktur pengalam keagamaan manusia secara keseluruan. Dalam pengalaman keberagaman manusia ada esensi irreducible dan itulah struktur fundamental manusia beragama.[14]
Prestasi besar pendekatan fenomenologis adalah adanya keniscayaan pandangan bahawa norma dari semua studi tentang adgama adalah pengalaman kaum beriman itu sendiri. Oleh karena itu, kepentingan dasar yang yang menjadi soal fenomenologi ini adalah terkait dengan pertanyaan apa yang telah dialami, dirasakan, dikatakan, dan dilaksanakan oleh orang beragama itu sendiri, terutama pengalaman-pengalaman yang bermakna bagi pemeluknya. Dengan demikian tujuan dari studi fenomenologi adalah untuk menjelaskan makna-makna sehingga memperjelas apalkah ritus, seremoni, doktrin atau reaksi sosial itu mengandung arti bagi para pemeluknya. Dalam peristiwa keagamaan. Selain itu, fenomenologi menghendaki agar untuk memberikan makna terhadap fenomena keagamaan secara memadai, maka seorang peneliti dituntut berfikir secara komprehensif.[15]
Gagasan mengenai studi agama secara fenomenologis sesungguhnya merupakan upaya menjustifikasi (hukum/keadilan) studi agama berdasar istilah yang dimilikinya sendri dari pada berdasar sudut pandang teolog atau ilmuwan sosial. Gagasan umum yang terdapat dibalik pilihan ini, telah dan tetap bersifat liberal, yang menegaskan pentingnya pengkajian yang setara terhadap kultur keagamaan yang berbeda-beda yang melampaui atau yang ada sekarang, berempati dan berusaha memahami sudut pandang trads yang berbeda-beda yang melintasi spektrum praktik keagamaam dan mengonstruksi suatu kasus demi kepentingan studii agama dalam dunia akademik.
Objektifitas atau netralitas fenomenolog, berdasar penelitian yang cermat merupakan suatu keputusan yang berlawanan dengan pandangan dunia (woridview) keagaman. Bowker memahami komunikasi ini berlangsung melalui doa, penyembahan, dan intersesi. Kristismenya, sebagaimana diarahkan kepada fenomenolog, adalah suatu dalih agar berhenti dari duduk di pagar (suatu posisi yang tidak layak dan tidak stabil yang harus dijustifikasi oleh fenomenologi ) dan mengakui perlunya menduduki suatu wilayah epistimologis khusus yakni menjadi seorang ilmuan prilaku atau teolog / orang beriman.[16]



BAB III

Antropologis, Sosiologis, Filsafat,  dan agama, adalah beberapa hal yang berbeda tetapi tidak harus dipertentangkan. Pemahaman agama memerlukan perangkat ilmu bantu agar pesan agama dapat dipahami sebaik-baiknya.
Studi normatif terhadap Islam, yang umumnya dikerjakan kaum Muslim sendiri untuk menemukan kebenaran religius, meliputi studi-studi tafsir, hadits, fiqih, dan kalam. Kemudian studi selanjutnya non-normatif terhadap aspek-aspek kebudayaan dan masyarakat Muslim, dalam pengertian yang lebih luas: meliputi telaah Islam dari sudut sejarah dan sastra atau antropologi, sosiologi dan lain-lain.

Dalam memahami islam hendaknya kita melalui berbagai pendekatan yang membantu kita memahami islam secara utuh dan menyeluruh. Dengan demikian ajaran islam dapat dilaksanakan secara utuh pula. Sebagai generasi muslim tentu kita dihadapkan berbagai persoalan keagamaan yang menuntut kita menghadapinya dengan bijak. Maka dengan mengetahui berbagai pendekatan konteks study islam diharapkan dapat membantu generasi muda untuk menghadapi berbagai masalah tesebut.




DAFTAR PUSTAKA
Nata,Abuddin. 1999. Metodologi studi islam. Jakarta : RajaGrafindo Persada.
Rosihon,Anwar.  2009. Pengantar studi islam. Bandung : Pustaka Setia.
Connoly,Peter. 2009.Aneka Pendekatan Studi Agama, Yogyakarta : Elkis.
Tim Reviewer BukuMKD UIN Sunan Ampel. 2017.Pengantar Studi Islam. Surabaya: UIN Sunan Ampel Press.
Tim Reviewer BukuMKD UIN Sunan Ampel . 2013. Pengantar Studi Islam. Surabaya: UIN Sunan Ampel Press.
Tim Reviewer BukuMKD UIN Sunan Ampel. 2013. Pengantar Filsafat. Surabaya: UIN Sunan Ampel Press.






[1] Tim Reviewer BukuMKD UIN Sunan Ampel , Pengantar Studi Islam, cet.7Surabaya: UIN Sunan Ampel Press,2014

[2] Tim Reviewer BukuMKD UIN Sunan Ampel , Pengantar Studi Islam, cet.7Surabaya: UIN Sunan Ampel Press,2017
[3] Abuddin Nata, Metodologi studi islam, Jakarta : RajaGrafindo Persada , 1999.
[4] Ibid, hlm.49-50
[5] Abuddin Nata, Metodologi studi islam, Jakarta : RajaGrafindo Persada , 1999.
[6] Anwar rosihon, Pengantar studi islam, Bandung : pustaka setia, 2009.
[7] Abuddin Nata, Metodologi studi islam, Jakarta : RajaGrafindo Persada , 1999.
[8] Ibid, hlm 39
[9] Abuddin Nata, Metodologi studi islam, Jakarta : RajaGrafindo Persada , 1999.
[10] Anwar rosihon , Pengantar Studi Islam, Bandung : pustaka setia, 2009, hlm. 85.
[11] Tim Reviewer BukuMKD UIN Sunan Ampel , Pengantar Filsafat, cet.7Surabaya: UIN Sunan Ampel Press,2017
[12] Tim Reviewer BukuMKD UIN Sunan Ampel , Pengantar Studi Islam, cet.7Surabaya: UIN Sunan Ampel Press,2013
[13] Abuddin Nata, Metodologi studi islam, Jakarta : RajaGrafindo Persada , 1999.
[14] Tim Reviewer BukuMKD UIN Sunan Ampel , Pengantar Filsafat, cet.7Surabaya: UIN Sunan Ampel Press,2017
[15] Tim Reviewer BukuMKD UIN Sunan Ampel , Pengantar Studi Islam, Surabaya: UIN Sunan Ampel Press, 2013
[16] Peter Connoly, Aneka Pendekatan Studi Agama, Yogyakarta : Elkis, 2009, hlm. 105.

Salam Literasi ! Apa Kabar Pembaca Cerdas dan berkualitas ? Semoga senantiasa dalam Rahmat dan RidhoNya Hari ini admin mau berbagi sebua...