Selasa, 04 September 2018

Salam Literasi !
Apa Kabar Pembaca Cerdas dan berkualitas ?
Semoga senantiasa dalam Rahmat dan RidhoNya

Hari ini admin mau berbagi sebuah artikel nih, Ini merupakan artikel yang saya buat semester lalu untuk memenuh tugas ilmu Nafs ( Psikologi).
jangan lupa share link ke temen kamu yaa...




Artikel singkat tentang Teori Belajar KONEKSIONISME 



Belajar merupakan hal yang sangat penting baik dalam lingkup luas maupun sempit khususnya tidak dapat dipisahkan dengan dunia pendidikan. Belajar menjadi hal yang banyak diteliti oleh banyak ahli. Salah satu aliran yang dikembangkan berbagai ilmuan memiliki sumbangsih yang sangat besar terhadap dunia pendidikan terutama terhadap proses belajar dan pembelajaran Berbagai teori terlahir dari bermacam-macam penelitian. Dari berbagai teori tersebut Teori belajar koneksionisme menjadi salah satu teori yang memberikan banyak sumbangan bagi dunia pendidikan khususnya maupun dunia psikologi Karena dalam psikologi, terdapat psikologi belajar dan pembelajaran. serta ilmu pengetahuan pada umumnya.
Teori belajar koneksionisme merupakan sebuah teori yag berasal dari percobaan john thorndik tentang puzzle box yang berisi seekor kucing.  Di dalam sangkar yang disebut puzzle box terdapat pengungkit, grendel dan alat percobaan lainya dimana peralatan tersebut berfungsi sebagai stimulus dan respon yang merangsang kucing untuk melepaskan diri dengan berbagai acara  dan memperoleh makanan yang berada diluar sangkar. Thorndik menyimpulkan bahwa belajar merupakan proses stimulus dan respon dengan arti tingkah laku  yang dipelajari merupakan alat bantu untuk mencapai sesuatu yang dikehendaki. Terdapat tiga hukum yang ditemukan thorndik yaitu : Hukum Pengaruh, Hukum Persiapan, dan Hukum Latihan.
1.)    Hukum Pengaruh( low of effects) : Jika suatu tindakan menghasilkan suatu hal yag memuaskam, maka kemungkinan besar tindakan atau prilaku tersebut akan diulangi. Sebaiknya, jika tindakan yang dilakukan menyebabkan hal yang tidak memusakan maka kemungkinan tindakan tersebut tidak diulangi lagi. Hukum ini berhubungan dengan pujian dan teguran, atau hadiah dan hukuman.
2.)    Hukum kesiapan ( low readness) : seberapa besar hasil individu dalam melakukan sesuatu dapat dilihat berdasarkan kesiapan untuk melakukan sesuatu. Seseorang akan berhasil daam belajar ketika ia sudah siap untuk belajar.
3.)    Hukum Latihan ( low excerse): semakin sering dilatih, kebisaan individu terhadap sesuatu hal akan semakin kuat. Dan semakin jarang dilatih maka lama kelamaan kemampuan individu dalam melakukan suatu hal akan berkurang.
                                   


Konsep Thorndik sebelum tahun 1930 :

1.)    Hukum Muttiple responds ( proses jamak) ; individu mengalami trial dan eror. Artinya, menerima banyak respon hingga sampai pada reson yang tepat. Dengan kata lain individu akan belajar dari kesalahan yang ia lakukan ssebelumnya.
2.)    Hukum Set atau Attitude  ( latar belakang dan sikap) : hukum ini menjelaskan bahwa proses belajar tidak dipengaruhi stimulus dan respon saja, namun kemampuan psikomotor, emosional individu juga menentukan proses belajar seorang individu
3.)    Hukum prepotency of elements ( kualitas elemen ) dalam pembelajaran, elemen yang dinamakan stimulus tidak semua sama. Ada yang sangat diperhatikan ada yang tidak perlu untuk diperhatikan sam asekali. Karena elemen dilihat dari kualitasnya sangat menentukan  hasil belajar. Tergantung dari sudut mana elemen tersebut di pandang
4.)    Hukum asimilaton atau analogy : hukum ini menjelaskan bahwa sesuatu hal yang sring didengar atau ditemui sebelumnya akan lebih dikenal dan tidak asing bagi seorang individu sehingga materi yang sering ditemui kata-kata tersebut mudah dipelajari.
Konsep sesudah tahun 1930
Dalam International Congress of Psychology di New Haven – Connecticut bulan September 1929, Thorndike merubah konsepnya. Atau lebih tepatnya merevisi hal berikut antara lain:

Law of Exercise ditinggalkan. Sebab law of use tidak memperkuat hubungan dan sebalilknya law of disuse tidak memperlemah hubungan
b. Law of Effect Revised direvisi

Alasan merevisi law of effect adalah hanya sebagian saja dari hokum ini yang benar; dimana respon yang diikuti oleh satisfying state of affair dapat memperkuat hubungan antara stimulus-respon, tetapi respon yang diikuti oleh annoying state of affair tidak mempengaruhi hubungan stimulus-respon. Revisi Thorndike terhadap hukum adalah :”reinforcement increases the strength of a connection, whereas punishment does nothing to the strength of a connection”.
c. Belonginess

Suatu materi pelajaran akan lebih mudah diberikan jika diatur dalam susunan tertentu. Dalam hal ini organisms dapat belajar dengan baik jika ada suatu contiguity dan susunan materi yang bagus. Menurut Thorndike bahwa belajar dapat efektif jika ada hubungan yang alami antara kebutuhan organisme dan efek dari respon yang dibuat oleh organisme
d. Spread Of Effect

Reinforcement tidak hanya memperkuat respon yang dibuat individu, tetapi juga memperkuat respon-respon yang ada disekitar respon tersebut.
A satisfying state of affair = suatu kondisi dimana mahkluk tidak mau menghindarinya, berusaha untuk memperoleh atau mempertahankannya.


Thorndike dan Pendidikan
Sebagai dosen pendidikan di Teachers College, Columbia University, Thorndike menulis buku-buku yang membahas topik-topik seperti tujuan-tujuan pendidikan , proses-proses pembelajaran, metode-metode pengajaran , rangkaian-rangkaian kurikulum, dan teknik-teknik untuk menilai hasil-hasil pendidikan.

1. Prinsip-prinsip Pengajaran;

Guru harus membantu siswa membentuk kebiasaan yang baik. Thorndike mengatakan:
a. Bentuklah kebiasaan. Jangan berharap kebiasaan-kebiasaan itu terbentuk sendiri.
b. Hati-hati jangan sampai membentuk suatu kebiasaan yang nantinya harus diubah.
c. Jangan membentuk dua/lebih kebiasaan ketika satu kebiasaan saja sudah cukup.
d. Jika hal-hal lainnya berjalan sesuai harapan, bentuklah kebiasaan dengan cara yang sesuai dengan bagaimana ia nanti digunakan.

ketrampilan yang mereka peroleh. Penggunaan-penggunaan pengetahuan dan ketrampilan ini harus dipelajari dalam hubungannya dengan materi ajar.
2. Rangkaian Kurikulum.

Sebuah ketrampilan harus diperkenalkan:
a. Pada saat atau sesaat sebelum ketrampilan tersebut dapat digunakan dengan cara yang sesuai.
b. Pada saat siswa sadar bahwa mereka membutuhkan ketrampilan tersebut sebagai sarana memenuhi beberapa tujuan yang bermanfat.
c. Ketika ketrampilan tersebut paling cocok dengan kemampuan siswa dalam hal tingkat kesulitn.
d. Ketika ketrampilan tersebut paling selaras dengan level dan tipe emosi, selera, serta kecenderungan naluriah dan kecenderungan yang didasarkan atas kemauan sendiri yang paling aktif pada saat itu.
e. Ketika ketrampilan tersebut ditunjang secara optimal oleh pembelajaran-pembelajaran yang diperoleh tepat sebelumnya dan ketika ketrampilan tersebut akan dapat menunjang pembelajaran yang akan terjadi tak lama setelahnya secara optimal.



Syukron sudah mengunjugi Blog kami.. :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam Literasi ! Apa Kabar Pembaca Cerdas dan berkualitas ? Semoga senantiasa dalam Rahmat dan RidhoNya Hari ini admin mau berbagi sebua...