Selasa, 20 Februari 2018

Latihan nulis cerpen

Assalamualaikum,,,, kali ini saya akan membagikan cerpen cinta  Karya Originalku.... selamat membaca ... salam Literasi !!



Angin bertiup syahdu diantara dedaunan yang gugur di musim yang penuh haru. Musim yang bahagia namun harus terbalut pilu yang mendera. Mentari menebar senyumnya bersama dengan kebekuan rindu di Stasiun yang penuh kenangan sendu. saat Alda bisa berjumpa dengan orang-orang terkasihnya di Jogja. Bapak, ibu, adiknya dan sanak kerabat kecilnya melalui stasiun ini. Stasiun yang tidak banyak berubah letak bangunanya. Hanya saja perbaikan telah banyak dilakukan. Tempat yang juga menjadi kenangan pahit sekaligus saksi teriakan mereka berdua.
“ Aku sudah tidak sanggup jika kakak terus mengatur dengan siapa aku harus berteman, bukan begitu caranya mengungkapkan ketidakpercayaan !”. teriakan alda yang sangat keras itu mengejutkan laki-laki styles manis diseberang jalan. Tidak kalah mengejutkan, laki-laki itu ikut berteriak sembari mengejar gadis itu.
“Itu yang namanya berteman? aku udah sangat percaya tapi apa iya harus dibiarkan gitu aja kenyamananmu sama cowok sok alim itu !” dengan susah payah fandika mengejar alda yangg terus berlari seakan mengejar angin yang berlalu.
 Ia sudah cukup lelah namun alda telah berhasil memasuki kereta.  Fandika hanya terpaku berdiri dengan penuh kekecewaan. Ia  tau maksud  alda yang sengaja berangkat dari jogja sore hari agar sampai disurabaya malam hari dan ia tidak mungkin menyusulnya ke surabaya malam itu juga. Yang tidak ia sangka adalah alda, gadis yang begitu berharga dimatanya bisa senekat itu mengakhiri pertemuan di kebun milik ayahnya sore itu. Entah sejak kapan ia memesan tiket kereta. Alda, gadis yang begitu ia kagumi entah dari mana ia harus menceritakan jika ia ditanya mengapa ia mengaguminya.
            Tuhan menebar cinta dalam kehidupan. Mengapa manusia masih mempermasalahkan ikatan sedang yang disyariatkan tak jua datang sesuai harapan. Masih adakah yang mengatakan: tertatiku mencari cinta. Dimana ia berada sebenarnya. ada  duka dan nestapa dalam hati yang gundah ada cinta disana yang sedang dipersalahkan. Ada sesuap nasi dan harta benda dan cinta ada disana melengkapi kecukupan mereka. Ada kemiskinan dan kekurangan dalam sebuah bahtera disana cinta menguatkan mereka agar tetap kuat menghadapi tantangan yang ada. Ada kecantikan yang didamba dan semua mata mengatasnamakan cinta untuk memilikinya. Sebenarnya apa yang ada difikiran mereka yang mendamba cinta merasa kesepian tanpa pasangan jiwa katanya. Dari sudut pandang mana mereka berkaca dan menempatkan harapan mereka tentang cinta. Aku ingin cintaku terjaga dan tak dipertemukan dengan cinta jika harus serumit ini yang aku hadapi. Sahabat, siapa yang bersalah jika seorang alda dipertemukan terlebih dahulu dengan cinta untuknya namun tak jua menentramkan hatinya. Masih jelas dalam ingatan Alda, satu minggu yang lalu di stasiun yang bersejarah bagi perjalanan hidupnya itu sebelum empat hari berikutnya ia kembali ke jogja ke rumah neneknya.
Liburan panjang belum berakhir tapi telah ia putuskan untuk segera sampai di kota tempat ia belajar. Terik mentari membakar  bumi, Universitas yang berdiri megah itu harus ia masuki kembali. Bukan untuk bertatap muka dengan dosen atau berbagai kajian diskusi. Hanya untuk segera membangkitkan semangatnya yang membara ketika menuntut ilmu disana. Semangat yang ia butuhkan saat ini untuk menghadapi bukan menghindari segala masalah. Hatinya bimbang sehingga semangatnya mulai pudar seperti cinta semu yang menurutnya tidak pantas untuk ia terima saat ini. Ia diminta untuk menjadi narasumber dibeberapa kajian selama tiga hari. Cukup membakar semngatnya. Namun dimanapun ia berada, kegundahan tetap saja menyelimuti hatinya. Tiga hari kemudian ia kembali ke jogja namun tidak dirumahnya, melainkan dirumah neneknya yang saat ini tinggal bersama adiknya, khalim yang bersekolah di salah satu Madrasah Aliyah di Jogja. Terkesan bolak balik dan membuang waktu memang. Toh fandika tidak akan berhenti untuk terus mencarinya untuk memperjuangkan cintanya pada alda. Meski sudah berapa panggilan yang ia abaikan. Sejak bertemu dengan alda, fandika tau bahwa cinta tak selalu tentang nafsu dan kemaksiatan. Alda mengajarkannya hakikat cinta padanya. Mengajarkan tentang kelembutan dan kesabaran yang tak pernah ia miliki. Alda telah berhasil membuat kehidupan fandika berubah drastis. Menyisipkan buih-buih ketaqwaann dalam cinta yang ia berikan. Mengajari tentang kekuatan cinta melawan hasrat untuk memiliki dan bukan lampiasan keindahan yang harus dimiliki oleh seorang pecinta. Kejadian di stasiun argo bromo itu rupanya sangat memukul hati Fandika. Ia tidak menyangka alda akan senekad itu. Tidak biasanya ia memilih menghindar dari pada menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Masalah sepele yang sebenarnya tidak asing lagi mereka berdua selesaikan. Sudah berhari hari fandika terlontag lantung mencari alda. Dimana ia sekarang. Ia bagai ikan yang sudah hampir mati karena tak tersentuh air. Semacam sakit taipi tak berdarah. Semacam pedih tapi peluh tak jua mengerti akan hati yang tak faham bahwa saat ini bukan waktunya untuk mengeluh. Menggetarkan puing-puing hati bukanlah hal yang mudah untuk seseorang yang yang tak menghiraukan hati. Semacam ingin berteriak namun jeritanpun tak mampu meredam gejolak yang ada. Belajar bahwa cinta bukanlah ungkapan ekspresi jiwa semata. Bukan tentang nafsu yang menguasai jiwa dan berdalih atas nama cinta. Tapi tentang kalam ilahi yang terpancar dari sanubari suci seorang insan.Tuhan menganugrahkanya sebagai rahmat dan bukan sebagai ikatan yang pantas untuk dihujat.
“ Ampun supe mas, kathah masalah kados ngeten niki mpun saget njenengan adepi. Embak nggeh mung mberjuangne tresnone. Kula nggeh mboten ngragoke njenengan maleh. Nanging Gusti Allah mboten Sare mas, ingkang kuwoso molak malikke manah. Nanging Sedoyo mpun pertelo. Dados nopo maleh ingkang dipermasalahaken?”
Di ujung sana fandika hanya terpaku meresapi tiap kata yang diucapkan oleh khalim, seluruh ototnya seakan tidak berfungsi. Ia tutup percakapan mereka via telepon genggam karena khalim memang tidak mau memberitahukan dimana alda. Dengan sekuat tenaga ia bangkit dan melajukan sepeda menyelusuri sepanjang jalan dikota wisata, jogja meskipun ia tak tau dimana sekarang alda berada. Informasi dari salah satu temannya bahwa Alda telah kembali ke jogja membuat ia bertekad mencari alda. Dan jika dihadapanya ada samudra yang membentang pun ia lebih memilih menyebranginya meski ia tau akan tenggelam dari pada berdiam diri diantara konfliknya dengan Alda. Ia bertekad menyelesaikan semuanya.
“Alda, dimana kamu sekarang berada? loe tau, gue seperti mayat hidup. Liburan semester yang seharusnya sejenak mengakhiri kerinduan gue malah buat gue sengsara kayak gini. Apa salah gue jika gak ingin kehilangan loe Al?”.
Sepanjang jalan fandika mengenang semua kenangan bersma alda. Saat alda mengajarinya tentang kesederhanaan. Ia masih mengingat janjinya pada alda tentang mempertahankan apa yang seharusnya dipertahankan. Menjaga apa yang seharusnya dijaga. Alda mengajarkan itu semua. Kehambaan dan ketaqwaan. Ia terus bercerita sepanjang jalan. Layaknya orang dengan gangguan kejiwaan. Meski tak nyaring, itu membuat tenggorokanya cukup kering dan memutuskan untuk membasahi kerongkonganya.
“ Air minum satu buk !”
Pemilik warung yang sedang bercakap-cakap dengan wanita muda dihadapanya itu segera mengakhiri pembicaraan mereka dan menyuguhkan satu botol air mineral. Wanita itu segera minta izin untuk pulang karena merasa keperluanya telah selesai.
“ Alda !”
Wanita itu menoleh dan  segera berlari menghindari lelaki yang memanggilnya. Namun fandika telah berhasil meraih tanganya yang dibalut dengan kain itu.  Sekuat tenaga, Alda berusaha melepaskan cengkraman tangan orang yang pernah ia cintai itu.
“ loe nggak boleh seenaknya permainin banyak hati Al !, Syaiku, farhan, dan hati sebelumnya , loe nggak boleh nyakitin banyak hati lagi. Cukup gue ! ya... ckup Gue !”
“ kak, aku berhak mencari yang terbaik. Aku berhak memilih yang terbaik !”
Alda tersedu. Tak mampu melanjutkan pembelaan terhadap perasaanya.
“ Mencari yangg terbaik ? memilih yang terbaik ? inget Al, berkali-kali kayak gini. Tapi berkali-kali pula  kita mampu nyelesai’in semuanya. Sayang....please, kita selesaikan semuanya baik-baik, oke...”
“Kak, semuanya udah jelas kan. Apalagi yang perlu diselesaikan?  Aku udah memutuskan semuanya. Jadi, maaf untuk tiga tahun yang membuang waktu kakak.” Alda masih tersedu dan berhasil melepaskan cengkraman tangan fandika. Fandika hanya bisa terpaku menatap kepergian alda.
“Kapanpun kamu mau, hubungin kakak. aku pasti dateng.  Pergilah Al, asal jangan meninggalkan luka dan jangan kembali tanpa membawa penawarnya.”
Teriakan fandika membuat Alda tergetar . Ia sempat menoleh. Tapi langkahnya tak mau untuk berhenti. Terus melangkah dan meninggalkan cinta yang pernah ia perjuangkan itu. sebenarnya ia hanya butuh kepastian dari fandika. Alda dilanda ketakutan yang luar biasa jik aharus bersama dengannya tanpa ikatan selain kekasih. Tapi fandika, ia benar-benar merasa belum cukup ilmu dan bekal sehelai keberanian untuk segera mewujudkan mimpinya dengan alda. Meskipun ia telah bertahun-tahun mengajar dan mampu kuliah dengan hasil yang ia kumpulkan, namun semua yang ia lakukan Lebih tepatnya disebut sebagai pengabdian. Karena tak bisa diceritakan berapa hasil yang ia dapatkan. Fandika tak mau orang yang dicintainya sengsara. Namun, saat  perjuanganya selama ini telah sirna begitu saja karena Alda harus pergi memperjuangkan cintanya. Cinta yang seharusnya adalah dirinya. Ia menghardik dirinya sendiri karena tak jua menjadi yang terbaik untuk Alda. Diakhir sisa waktu liburan semester dari separuh perjalanan studinya, Alda harus pergi meninggalkan ia dan seluruh kenangan mereka. Fandikapun memutuskan kembali dimana ia harus berproses. Bukan untuk melupakan, tapi untuk menjemputnya kembali jika Tuhan mengijinkan. Sedangkan Alda, ia pergi dan ingin menutup harapan yang meski telah lama ia perjuangkan. Studi yang tidak main-main bukanlah alasan yang utama, namun ia harus pergi untuk memilih dan melangkahkan pilihanya entah siapa. Memilih yang terbaik ternyata hanya alasanya meninggalkan Fandika. Keyakinan hati yang yang terus ia lawan, kepasrahan yang terus menerus ia semayamkan membuat ia beranjak dari cinta menuju penantian dan janji fandika yang sesungguhnya.
Hari berlalu dan kenangan itu selalu saja menjadi hal beku yang tak pantas ia kenang kembali. memutuskan untuk tidak kembali ke Jogja meski beberapa semester telah terlewati. Namun, keluarganya sangat mengerti watak anak tercintanya itu. Sebenarnya Alda tak tega jika kedua orang tua dan adiknya, khalim harus beberapa kali menjenguknya. Ada alasan tersendiri mengapa ia bertahun-tahun tak mau pulang yaitu untuk bekerja demi meringankan beban orang tuanya. Juga melupakan masa-masa sulit dimana ia harus menutup hatinya. Begitu cepatnya waktu yang tak bisa dihentikan itu mengantarkan alda sampai pada masa dimana ia harus meninggalkan tempat dimana ia berproses. Bertahun-tahun lamanya ia berproses di bangku kuliah dan lulus sesuai progres. Beberpa hari yang lalu salah satu dari beberapa  lamaran mengajar yang ia kirim diterima. Kejutan yang sangat luar bisa dari sang kuasa. Begitu pikir Alda. Itu artinya ia akan rindu keramaian kereta dan lalu lalang mahasiswa di jalan Ahmad Yani,  Gang Lebar Jemur Wonosari, gang Dosen dan Wonocolo gang Zubair yang Asri. Semuanya menjadi saksi proses perjuangan menapaki akhir studinya di kota pahlawan yang penuh kenangan. Ada rasa Rindu tak tertahankan. Mungkin rindu itu pula yang menyebabkan Alda harus meninggalkan kota metropolitan membawanya kembali ke Jogja. Ya, ia akan merintis karirnya disana. Baginya, jogja tanpa cinta bukanlah masalah karena kebahagiaan Alda sesungguhnya adalah senyum bangga keluarganya yang merupakan segalanya baginya. Hingga suatu saat hari hari yang ia lalui berubah ketika rasa penyesalan yang melanda. Sejak pertemuanya dengan syaiku di angkot menuju rumah. Beberapa menit ia bercakap-cakap sebelum ia turun dari angkot. Kata kata pedih yang syaiku lontarkan kepadanya adalah : “ cukup gue sama Fandika aja Al yang loe sakitin. Meski gue ada dihati loe hanya sesaat ngga kayak Fandika yang perjuangin cintanya sampai segitunya, dari Loe gue tau tenyata cinta nggak kayag yang gue fikirin. Maksih banget Al loe bener-bener kuat memegang prinsip. Sekarang apa masih ingin merjuangin farhan? Masih ingin mencari kualitas mencari kualitas atau sekedar baper mengungkapkan rasa yang terlintas Al?!”
Teruntuk orang yang merindu dan kurindukan. Maaf tak memajang foto dan senyumku selama ini. agar suatu saat kau tau tentang prinsip yang kupegang untuk mnjaga diri. Teruntuk jodohku kelak, tak perlu ucapan agar kau tau aku merindumu. Aku harap kita segera bertemu karena aku tak mau ada lagi hati yang tersakiti seperti waktu yang telah berlalu. Aku rapuh jika aku harus merapuhkan banyak hati. Menutup pintu hati untukmu? Lalu kapan kau datang dan membuktikan janji  yang sesungguhnya?
Syaiku, farhan,fandika, mengapa yang aku harapkan ternyata bukan mereka.
Dan ternyata cinta bukan nafsu dan maksiat semata.
Begitu jleb, menusuk relung masa lalunya. Meski ia sama sekali tidak lagi menghubungi farhan. Ia telah menyia-nyiakan Fandika yang telah berjuang sekian lama memperbaiki diri dan ekonomi demi impian-Nya bersama Alda.
Senja telah bertepi menapaki cakrawala yang sepi dari senyum mentari. Hari yang sangat melelahkan bagi insan yang dipekerjakan oleh duniawi. Hari yang menyenangkan bagi insan yang pandai bersyukur atas yang Tuhan karuniai. Namun apa arti  berlalunya hari bagi sorang pecinta yang slalu merindukan seseorang yg ia nanti. Di tepi danau dengan Semilir angin menerpa. Teraja sejuk nan menyimpan tanya. Menerpa wajah gadis yang sedang memandang danau yang luas didepanya.  Entah berapa lama ia tetap tak beranjak dari tempat duduknya. Laki laki yang muda belia memandang punggungnya tanpa suara.
“Adakah pecinta yang lebih jahat dari aku lim. Berapa banyak hati yang aku koyakkan.”
“Mbak alda jangan terus menerus menyalahkan diri sendiri. Itu semua tidak akan menyelesaikan masalah. Apalagi dengan mbak seperti ini, membuat semuanya semakin rumit.”
Wanita itu terus terisak lirih. Pemuda belia yang ternyata adik kandungnya duduk disampingnya. Seakan tau apa yang dirasakan wanita yang dicintainya setelah ibunya itu, ia menyandarkan kepala alda dipundaknya.
“Sampeyan ndak salah mbak, hanya butuh waktu untuk memperbaiki keadaan kembali seperti semula. Dan aku yakin, mbak bisa.”
Sejenak dipandangi adiknya itu. Masih sangat muda untuk tau tentang permasalahan rumit yang menurutnya sangat sulit dihadapi itu. Ia teringat saat saat remaja, sedang adiknya masih balita. Bermain tidak peduli dengan teriknya sinar mentari yang menggelapkan kulitnya sedikit demi sedikit hingga memeasuki bangku sekolah dasar. Agaknya adik yang sangat ia cintai menemui dunianya. Ia mulai mandiri dan belajar berbagai hal dan jarang  bermain dibawah terik matahari sehingga kulit sawo matang nya lebih terawat. Waktu berjalan begitu cepat. Saat ini adik kecilnya itu telah siap disampingnya sebagai sandaran segala masalah yang ingin ia tumpahkan saat itu.
“ayo kembali, jangan membuat mbah khawatir. Seharian embak disini tidak akan merubah apapun.”
Alda masih diam tak bergeming. Sampai adiknya menarik tanganya perlahan untuk mengajak Alda berdiri. Seumur hidupnya, khalim tak pernah melihat kakak perempuan satu satunya itu serapuh saat ini. Wanita kuat yang sering ia rindukan kasihnya. Sejak kecil tangan-tangan halusnya selalu ia rindukan meski harus menunggu alda pulang dari kota pahlawan sebulan sekalii sampai ia lulus. Namun ia takkan pernah bisa jauh dari alda hingga ia beranjak remaja dan harus meneruskan studinya di jogja. Entah masalah yang dihadapi wanita yang saat ini ia genggam tangannya itu sebesar apa. Namun yang pasti, ia tau hati wanita dan logika rumitnya membuat masalah semakin merapuhkan kakak kandungnya itu.
Tak sampai melangkah, sosok yang menggerogoti hati Alda itu telah ada didepanya. Tapi apakah itu orang yang sama. Ia ragu. Khalim perlahan meninggalkan mereka berdua memperbaiki semuanya atau hanya sekedar menyelesaikan masalah setelah perietiwa empat tahun yang lalu terpisah oleh ego masing masing. Meski sempat syok dan  tak menduga jika Fandika menemuinya, Alda berusaha tetap tenang. Disisinya ada wanita cantik bercadar. Mungkin ini calon istri fandika, pikirnya. Fandika mengangguk pada wanita itu. wanita itupun meninggalkan mereka berdua dan menyusul khalim. Keheningan sesaat tercipta.
“ Aku tau keputusanmu saat itu salah. Tapi, aku pergi karena aku menghormatinya. Dan rasa itu takkan pernah berubah Al..”.
Alda tetap diam. Lidahnya kelu, kakinya tak sanggup untuk melangkah. Ia terpaksa kembali duduk. Fandika duduk di batu dekat danau namun keheningan senja itu membuat suaranya yang pelan menjadi nyaring.
“ aku tak mau berlarut, besok aku kesini mengajak keluargaku untuk mengkhitbahmu. Akan aku penuhi janjiku padamu beberapa tahun yang lalu. Saat kau bilang malu padaNya.”
Alda terisak lirih. Fandika agak ragu meninggalkanya. Namun Alda tak jua menghentikan isaknya. Fandika merasa berslah membuat wanita yang dicintainya itu syok. Ia membujuk alda sembari membuka ponselnya menghunbungi khalim agar segera menuntun Alda pulang. Sesampainya diruang di ruang tamu, giliran Fandika yang syok melihat rombongan keluarganya telah berada disana.
“ Loh, Pak... mak... kok sudah disini?”
“ Katanya tadi secepatnya, ya sekarang ini waktu yang paling tepat. Mumpung tanggalnya bagus ini lho, lha wong sudah bertahun tahun setelah kamu lulus selalu menghindar kalo ditanya tentang pernikahan dengan nak Alda. Sekarang tunggu apa lagi ?”.
Rupanya kedua keluarga ini telah lama membahas kedua anak mereka. Tinggal keputusan Alda yang dinantikan kedua belah pihak. Namun, Alda tak habis fikir . Sesingkat itu Fandika mengakhiri penantianya? Alda belum percaya sepenuhnya kenyataan yang ia hadapi. Ia memang menyadari keputusannya beberapa tahu yang lalu salah hingga menyakiti fandika. Tapi, empat tahun tanpa kabar bukan hal yangg bisa diterima begitu saja. Dan sekarang, ia tiba-tiba ingin datang bersama kelurganya. Sangat  mengejutkan. Menikah bukanlah hal main-main. Tak sebercanda fandika yang sukses membuat ia tertawa saat ia gulana. Alda benar benar menggelengkan kepala. Lagi lagi Tak habis fikir dengan apa yang ia hadapi saat ini. Suasana lenggang. Menunggu jawaban Alda.
“Bagi saya pernikahan adalah hal yang sakral dan terhormat. Dan salah satu wujud hormat dan ta’dzim saya baik kepada kedua keluarga dan terutama pada Sang Maha Cinta, izinkanlah saya untuk mengambil keputusan dengan bermunajat dan menenangkan hati dari keterkejutan saya atas kejutan yang sangat mengejutkan ini.” Akhirnya angkat bicara.
Semua yang hadir tak bisa menyangkal keputusan Alda. Pertemuan sore itu berakhir dengan sendau gurau yang khas keluarga masing masing. Layaknya kerabat yang  lama berpisah. Sebelum pulang Fandika memandang pujaan hatinya yang masih berkaca-kaca itu. Hatinya terenyuh ada rasa sesal dan kesal. Gundah dan pasrah. Alda tak memberikan kepastian berapa lama ia akan memberikan keputusannya. Selama itu pula hidup Fandika seakan antara hidup dan mati. Berjalan seperti mayat hidup. Satu bulan berlalu dan jawaban belum juga datang. Fandika sering menelpon khalim hanya untuk sekedar menyapa dan menunggu keputusan penting dari seseorang yang ia harap akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak. Di suatu pagi yang cerah, mentari menyapa penuh tanda tanya. Cerminan hati Fandika saat itu. suasana rumahnya ramai dan penuh hiruk pikuk. Ia tak menyangka Alda telah memberikan jawabanya. Seharian ia membujuk ibunya agar mau bercerita bagaimana Alda memberikan jawaban.
“ sudah toh le, yang penting kan anak bapak ini akan menikah dengan gadis pujaanya. Sudah, jangann ganggu makmu. Sana siap-siap nanti malam ijab kabulnya di Rumah mertuamu habis isya’ lo.”
Fandika hanya terbengong-bengong menatap bapaknya. Sekarang Fandika yang dibuat terheran-heran oleh keadaan. Berkali-kali ia menampar pipinya hanya untuk sekedar memastikan bahwa ia tidak sekedar bermimpi. Nanti malam adalah akad yang ia impikan dan ia harapkan selama bertahun-tahun . Detak jantungnya mulai tak menentu. hanya hitungan jam dan detik terus berjalan. Sebentar lagi cinta akan merekah abadi setelah badai membuatnya layu. Senja sore itu adalah senja yang berharga san penuh kebahagiaan baginya. Senja yang diselimuti pelagi. KetentuanNya adalah keindahan tiada tara. Kebahagiaannya, Alda layaknya pelangi yang menambah keindahan dikala senja. Pelangi senja yang tidak hanya menuntun Fandika Merajut kenangan bersama Alda kembali, namun juga bersamanya memperjuangkan lembaran baru setelah badai penuh cobaan yang berliku mereka lewati.

Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam Literasi ! Apa Kabar Pembaca Cerdas dan berkualitas ? Semoga senantiasa dalam Rahmat dan RidhoNya Hari ini admin mau berbagi sebua...